Perjalanan ke Makam Cut Meutia, Lokasi Pertempuran 1910
- 02 Sep 2025 16:21 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Aceh Utara: Sebagaimana yang sudah kami turunkan pada tulisan sebelumnya, perjalanan menuju ke lokasi Makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia, masih harus ditempuh dengan penuh resiko oleh para peziarah.
Lokasinya jauh terpencil ke pedalaman Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, ditempuh dengan kendaraan khusus, serta separuh perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Tim RRI Lhokseumawe sendiri dipimipin Kepala Stasiun, Antoni, didampingi Personil Media Sosial, Personil Kamera Drone, Kameramen, dan Reporter.
Baca Juga: Perjalanan ke Makam Cut Nyak Meutia Masih Penuh Resiko
Rute menuju Makam Cut Meutia sebagian besar terbuat dari tanah liat, dan jika usai diguyur hujan maka tak jarang becek dan berlumpur. Begitulah yang kami lihat ketika menapak ke lokasi tersebut bersama Danrem 011 Lilawangsa, Kolonel Infanteri, Ali Imran, dan para tentara lainnya, pada Sabtu (30/8/2025).
Kami ingin melihat langsung Makam Cut Meutia usai dipugar Makorem 011 Lilawangsa, dalam 10 bulan terakhir. Dan, kami merasakan perjalanan yang tidak mudah serta dibawah bayang-bayang resiko, yakni kendaraan yang terjebak lumpur, sampai resiko terpelanting ketika menyusuri jalan setapak menyusuri hulu sungai Pedalaman Alue Rime, serta resiko hewan buas dan liar di dalam kawasan hutan lindung.

Brifing dari Danrem.
"Perhatikan ya. Kita akan berjalan kaki lebih kurang satu jam lebih. Penuh resiko, jalanan bercampur bebatuan licin. Kalau bisa gunakan sepatu ket, atau sepatu karet. Selain itu, jalurnya masih tergolong hutan rimba, masih banyak binatang buas dan liar, gajah, harimau dan sebagainya. Regu tembak mohon diamankan lokasi, dan berjalan di depan, dan medis paling belakang", ucap Danrem, Ali Imran dalam Brifing sebelum kami berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan berjalan kaki, yang kami temui hanya hutan belukar yang membukit di kiri dan kanan. Rasanya, bagaikan dipeluk hutan belukar perbukitan. Batang-batang pohon yang berdaun rimbun saling bertemu dari kiri ke kanan, seakan bagai berjalan di dalam terowongan.

Jalan kaki menyusuri hulu sungai. 
Rute yang kami tempuh ini dinamakan rute bawah dan mendatar. Sementara rute satunya lagi, disebut rute atas dan hanya dapat dilalui dengan motor trail dan traktor Jonder yang telah dimodifikasi.
"Karena kalau lewat sungai itu lebih datar ya. Karena kok selama ini, kalau ngangkut material pembangunan Makam, kami kalau lewat atas enggak bisa, itu hanya motor yang bisa, itu pun trail, kalau situasi tidak hujan. Kalau situasi hujan tidak bisa dilewati. Jadi kami gotong material itu lewat sini, lewat sungai ini. Baik keramik, marmer, paving blok, batu bata, baja ringan, pasir, semen, dan lain-lain", ungkap Ali Imran kepada RRI di tengah perjalanan menyusuri sungai dangkal yang mengalir ke bawah, sementara kami berjalan ke atasnya, berlawanan dengan arus sungai.
Setelah lebih kurang satu setengah jam jalan kaki, diatas bebatuan cadas dan licin karena terendam air serta ditumbuhi lumut, akhirnya kami tiba di titik lokasi gugurnya Cut Nyak Meutia bersama para pengawalnya ketika bertempur dengan pasukan Marsose Belanda tahun 1910 Masehi.

Berhenti di sekitar lokasi gugurnya Cut Nyak Meutia.
"Posisinya persis 500 meter dari Makamnya sekarang, kawasan Alue Kurieng. Beliau gugurnya disini nih, di atas sini, bersama dengan Tgk. Seupot Mata, 24 Oktober 1910. Tangan beliau (Cut Meutia) yang pegang senapan, sempat dipotong sama Marsose Belanda, terus Jenazahnya dibawa lari para gerilyawan Aceh. Di atas sini, dulu ada tugunya, tapi dirusak oleh Gajah", ungkap Danrem Ali Imran, sembari menunjuk ke atas perbukitan yang ditumbuhi hutan belukar, sementara kami berdiri persis di bawahnya.

Setelah berdiri di lokasi tersebut selama beberapa menit, kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kembali, menuju tempat peristirahatan terakhir Cut Nyak Meutia dan Tgk Seupot Mata.
(Bersambung)...
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....