Kenduri Sepanjang Tahun di Aceh
- 01 Okt 2026 19:48 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Kalau dihitung-hitung dari 12 bulan dalam setahun, hampir tak ada bulan yang tidak ada kenduri bagi orang Aceh. Mungkin masyarakat yang paling banyak tradisi kendurinya di Nusantara adalah masyarakat Aceh. Ini dapat dilihat, dari 12 nama bulan Islam (Arab) dalam setahun–yang nama bulan tersebut diganti nama dalam bahasa Aceh oleh orang Aceh, hampir semua nama bulan itu dinamakan bulan kenduri.
Mulai dari bulan Muharram yang disebut orang Aceh beuleun Hasan-Husen, adalah bulan kenduri bubur untuk mengenang peristiwa syaidnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hasan dan Husen yang wafat dalam perang karbala. Orang Aceh memperingati hari meninggal Hasan-Husen pada 10 Muharram yang disebut hari Asyura. Terus bulan Safar (beuleun sapha) adalah bulan khanduri laot dan bulan ucapara Rabu Abeh, yang juga diyakini orang Aceh sebagai bulan kemalangan atau bulan sial. Karena itu, orang Aceh dulu bila ada suatu pekerjaan atau hajatan kalau tidak terpaksa tidak dilakukan dalam bulan safar ini. Karena bulan Safar dianggap orang Aceh dulu bulan kekerasan yang mudah menyulut emosional manusia.
Kemudian tiga bulan berturut-turut, yaitu bulan Rabiul Awal (beuleun molod), Rabiul Akhir (beuleun molod tengeh) dan Jamadil Awal (beuleun molod keunuelheuh). Tiga bulan ini bagi orang Aceh adalah jelas bulan-bulan kenduri besar-besaran, yaitu kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kanapa dalam kehidupan orang Aceh ada tiga bulan maulid, karena dulu untuk kenduri maulid ini sangat tergantung pada kemakmuran ekonomi, misalnya di suatu daerah di Aceh, begitu datan bulan Rabiul Awal kebetulan mereka baru habis panen, maka mereka dapat melaksanakan maulid bertepatan pada bulan Rabiul Awal maulid pertama. Sementara di daerah lain, mengambil maulid tengah setelah mereka panen. Demikian pula maulid terakhir, yaitu dalam bulan Jamadil Awal, kerena menurut mereka dalam bulan tersebut mereka sudah makmur, baik karena habis panen sawah atau pun hasil perkebunan lainnya.
Kemudian bulan Jamadil Akhir, orang Aceh dulu menyebut bulan ini beuleun khanduri boh kayee. Seterusnya bulan Rajab, bulan ini dinamakan orang Aceh beuleun khanduri apam. Atau sering juga disebut beuleun mereut (bulan Isra Mi'raj). Dalam bulan ini orang Aceh selain berkenduri nasi, di meunasah-meunasah atau di masjid-masjid juga diadakan kenduri apam (semacam kue serabi) yang dimakan secara bersama-sama.
Latar sejarah munculnya kenduri apam bagi orang Aceh menurut Snouck Hurgronje, dulu pernah ada orang Aceh ingin sekali mengetahui bagaimana nasib orang di dalam kubur, terutama tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Mungkar dan Nangkir. Lalu orang itu berpura-pura mati dan dikubur hidup-hidup. Kedua malaikat itu datang menanyakan soal agama dan amalnya. Ternyata si pura-pura mati ini banyak sekali kekurangannya. Malaikat pun memukulnya dengan pentungan besi.
Akan tetapi pukulan itu tidak mengenainya, kerena terhalang oleh sesuatu yang bentuknya bulat seperti bulan, seakan-akan benda itu terus melindunginya dari pukulan-pukulan malaikat. Lalu kali-laki yang pura-pura mati itu berhasil keluar dari kubur dan segera menemui anggota keluarganya yang sangat terkejut melihat dia telah hidup kembali. Lantas lelaki itu menceritakan pengalamannya yang terlindung saat hendak dipukul oleh malaikat. Ternyata perisai yang berbentuk bulat seperti bulan yang melindunginya adalah kue apam yang sedang dibuat oleh keluarganya di rumah untuk dikenduri.
Sejak itu, menurut Snouck Hurgronje, kue apam yang dikendurikan orang Aceh memiliki pengaruh besar terhadap nasib mereka yang sudah meninggal. Cerita Snouck ini bisa jadi sebagai ilustrasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ilmiah dan akal sehat. Tapi dari cerita itu setidaknya dapat dijadikan hikmah dari makna sebuah kenduri. Sekalipun yang dikendurikan itu dalam bentuk apam.
Makanya, dalam tradisi orang Aceh, kenduri apam ini tidak hanya dalam bulan Rajab, tetapi juga dilaksanakan setiap terjadinya gempa bumi. Karena orang Aceh dulu meyakini, setiap terjadi gempa bumi akan terjadi pergeseran sisa-sisa tulang belulang mayat leluhurnya yang ada di dalam kubur. Maka dengan kenduri apam ini diharapkan sisa-sisa mayat leluhurnya di dalam kubur dapat bersatu kembali. Itu sebabnya, setiap habis terjadi gempa bumi di Aceh, orang Aceh dulu selalu mengadakan keduri apam.
Seterusnya adalah bulan Sya'ban, bulan ini bagai orang Aceh adalah bulan Khanduri Bu. Dalam bulan Sya'ban ini biasanya melaksanakan kenduri untuk segala arwah keluarganya yang sering disebut dengan khanduri thon. Upacara kenduri ini dengan cara mengundang warga kampung dan sanak saudara dekatnya untuk bersamadiyah (seuma'a) di rumah orang yang kenduri ini, dengan harapan kenduri ini dapat menenangkan segala arwah keluarganya yang telah meninggal dunia.
Begitu juga bulan Ramadan, dalam bulan puasa ini menurut tradisi orang Aceh dulu paling tidak ada tiga kali upacara kenduri yang dilaksanakan. Yaitu kenduri tamat Al-Quran (tadarrus) pada paruh pertama bulan puasa, kenduri memperingati Nuzul Quran (17 Ramadan) dan kenduri tamat Al-Quran paruh terakhir Ramadan. Semua upacara kenduri ini dipusatkan di meunasah atau di masjid, dengan cara setiap warga kampung mengeluarkan hidangan kendurinya untuk makan bersama-sama saat berbuka puasa.
Memasuki 1 Syawal–seperti umat islam lainnya dunia–masyarakat Aceh juga berhari raya Idul Fitri. Dalam kunjung mengunjungi silaturrahmi Idul Fitri ini bagi orang Aceh juga tak terlepas dari kenduri. Meskipun segala makanan (kue-kue) lebaran telah dihidangkan untuk tamunya, tapi sang tamu tetap dipaksa harus makan nasi walau hanya sedikit sebagai bagian dari kenduri lebaran.
Demikian pula dengan bulan Zulkaedah, yang disebut orang Aceh beuleun meu-apet. Dikatakan meu-apet, karena bulan Zulkaedah ini adalah bulan yang diapit oleh hari raya, Idul Fitri dan tanggal 10 Zulhijjah, yang merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah haji dan sekaligus sebagai hari raya Idul Adha. Dan juga tak sedikit acara-acara kenduri yang dilaksanakan orang Aceh, terutama kenduri-kenduri syukuran yang dilakukan oleh masyarakat yang akan berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Sementara kenduri di bulan Zulhijjah, orang Aceh sering menyebutnya khanduri ujong thon. Kenduri ini dimaksudkan orang Aceh sebagai kenduri rasa syukur atas segala rezki yang telah diberikan Tuhan selama dalam setahun atas segala usahanya. Jadi, dalam kehidupan orang Aceh, dari 12 bulan dalam setahun, hampir tak ada bulan yang tidak ada kenduri.
Itu belum lagi kenduri-kenduri mengharapkan keberkahan dalam bercocok tanam, seperti khanduri tren u blang yang disebut orang Aceh Khanduri Nabi Adam. Kenduri ini dimaksudkan agar usaha pertaniannya jauh dari segala hama penyakit, sehingga dapat menghasilkan panen sebagaimana yang diharapkan.
Begitu pula kenduri-kenduri kelahiran dan kematian. Dalam tradisi orang Aceh kenduri kematian ini biasanya dilaksanakan sampai 7 hari berturut-turut. Pada hari ke 7 adalah puncak dari kenduri kematian ini yang dilaksanakan secara besar-besaran bagi yang berkemampuan secara ekonomi. Semua pelayat yang mengunjungi pada hari pertama hingga hari ke 6 kematian diundang kembali pada hari ke 7 untuk makan kenduri yang disediakan keluarga ahli bait yang meninggal dunia. Setelah kenduri 7 ada lagi kenduri 10 hari kematian, kenduri 40 hari dan kenduri 100 hari. Tiga kenduri ini sudah menjadi tradisi dari kenduri kematian seseorang untuk dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan sesuai dengan kemampuannya.
Sekalipun ada khilafiah dalam hal kenduri kematian ini, kita tidak akan masuk dalam wilayah itu. Karena yang kita bincangkan ini adalah masalah tradisi, bukan persoalan aliran dan mazhab. Yang tentu saja, tradisi-tadisi yang sudah mengakar dalam masyarakat Aceh–termasuk tradisi ritual-ritual kenduri yang berlaku dalam masyarakat Aceh adalah juga adopsi dari nilai-nilai Islam. Hal ini memang jarang dicoba pertemukan secara tertulis dalam kajian-kajian kebudayaan Aceh. Bagaimana sebuah tradisi lahir dalam masyarakat Aceh, apakah dilatari oleh Islam atau tidak, masih sangat sedikit kajiannya. Dan ini adalah ladangnya akademisi untuk mengungkapkannya.[]
(Penulis Nab Bahany As - budayawan, tinggal di Banda Aceh).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....