Alee Tunjang, Warisan Bunyi Kuta Makmur yang Nyaris Hilang

  • 12 Sep 2026 18:02 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Denting alu yang menghantam lesung terdengar berbeda dari alat musik pada umumnya. Enam pemain memukul empat lesung kayu nangka secara bergantian, menghasilkan irama khas yang dikenal masyarakat Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, sebagai Alee Tunjang. Sabtu, 12 September 2026.

Alat musik tradisional ini bukan sekadar permainan bunyi. Alee Tunjang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Buloh Kuta Makmur yang kini kembali dihidupkan oleh generasi muda.

Salah seorang pegiat sejarah dan budaya, Fauzi syam dari masyarakat meuseuraya institute mengatakan Alee Tunjang dulunya dimainkan masyarakat ketika panen raya. Namun, keberadaan alat musik tradisional tersebut sempat hilang akibat konflik yang terjadi di Aceh.

“Setelah kami mendengar sejarahnya, kami kaji dan duduk bersama beberapa petua di desa, dulunya Alee Tunjang ini sempat hilang ketika konflik DI/TII. Kemudian dilestarikan kembali setelah konflik mereda, dan sempat hilang lagi pada masa DOM di Aceh,” ujar Fauzi.

Menurutnya, Alee Tunjang memiliki bentuk dan teknik permainan yang khas. Alat musik tersebut terdiri dari empat lesung berbahan kayu nangka dengan enam orang pemain.

Alu yang digunakan sebagai pemukul dibuat dari pelepah pohon aren atau dalam bahasa lokal disebut peleupek jok. Pelepah dipilih dengan kondisi tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah agar menghasilkan dengungan khas ketika dipukul.

“Pemainnya ada enam orang dan memegang alu dari pelepah pohon aren. Pelepahnya tidak boleh terlalu kering dan tidak boleh terlalu basah supaya menghasilkan dengung,” jelasnya.

Dalam permainannya, Alee Tunjang terbagi menjadi tiga bagian irama, yakni sumpom, chup-chup dan rempah. Bagian rempah dimainkan empat orang dengan dua orang pada satu lesung, sementara sumpom dan chup-chup masing-masing dimainkan satu orang.

Perbedaan ketukan tersebut menghasilkan karakter suara yang berbeda. Sumpom menghasilkan suara lebih dalam, sementara rempah terdengar lebih ringan dan tajam.

Fauzi syam menyebut Alee Tunjang diperkirakan telah dikenal sejak sekitar abad ke-14. Dalam penelusuran sejarah masyarakat setempat, terdapat sejumlah versi mengenai asal-usul alat musik tersebut.

Salah satu cerita berkaitan dengan seorang anak raja dari Lhokseumawe yang diasingkan ke wilayah yang kemudian dikenal sebagai Blang Ara atau Kuta Makmur. Versi lain mengaitkannya dengan perjalanan Kerajaan Aceh Darussalam saat membawa pulang meriam Lada Sicupak dan Cakra Donya dari Turki.

Meski memiliki sejarah panjang, saat ini hanya segelintir masyarakat yang masih memainkan Alee Tunjang.

“Kalau sekarang cuma segelintir orang. Di Kuta Makmur yang masih memainkannya setelah panen ada di Desa Blang Riek. Yang lain mungkin sudah lupa dan tidak ada lagi yang melestarikan,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi alasan bagi para pegiat budaya dan anak muda untuk kembali memperkenalkan Alee Tunjang kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Fauzi berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan memberi perhatian terhadap keberadaan alat musik tradisional, bukan hanya Alee Tunjang tetapi juga kesenian khas daerah lainnya.

“Harapannya agar seluruh alat musik tradisional, baik khas Kuta Makmur maupun daerah lain, sama-sama dilestarikan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. Karena ini merupakan identitas suatu bangsa dan daerah,” pungkasnya.

Momentum Milad 800 Tahun Samudera Pasai juga dinilai menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Aceh Utara, termasuk Alee Tunjang, kepada masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....