Dari Nongkrong ke Networking, Bagaimana Cara Anak Muda Bersosialisasi Berubah?

  • 25 Agt 2026 07:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Nongkrong dulu identik dengan menghabiskan waktu bersama teman, membicarakan hal-hal ringan, atau sekadar mencari hiburan setelah menjalani rutinitas. Kini, aktivitas yang sama bisa memiliki tujuan yang lebih luas. Bertemu di kafe, menghadiri acara komunitas, mengikuti seminar, atau datang ke sebuah event sering kali menjadi kesempatan untuk memperluas koneksi. Bagi sebagian anak muda, bersosialisasi bukan lagi hanya tentang siapa yang diajak mengobrol, tetapi juga tentang siapa yang bisa ditemui dan peluang apa yang mungkin muncul.

Perubahan ini tidak berarti nongkrong kehilangan fungsi sosialnya. Justru, aktivitas santai sering menjadi cara yang lebih natural untuk membangun hubungan. Percakapan yang awalnya membahas pekerjaan, musik, olahraga, atau hobi dapat berkembang menjadi pertukaran ide dan informasi. Dari perkenalan sederhana, seseorang bisa mendapatkan teman baru, menemukan komunitas, mengetahui peluang pekerjaan, atau bahkan menemukan calon partner untuk sebuah proyek.

Media sosial juga membuat proses networking menjadi jauh lebih mudah. Setelah bertemu seseorang, hubungan dapat dilanjutkan melalui Instagram, LinkedIn, WhatsApp, atau platform lainnya. Pertemuan yang hanya berlangsung satu atau dua jam dapat berubah menjadi koneksi jangka panjang. Bahkan, seseorang tidak harus selalu bertemu secara langsung untuk membangun jaringan. Komunitas digital, forum, webinar, dan berbagai grup berbasis minat memungkinkan orang bertemu dengan individu yang memiliki latar belakang dan tujuan yang sama.

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh dunia kerja yang semakin fleksibel. Freelancer, pekerja kreatif, pengusaha muda, content creator, dan pekerja jarak jauh tidak selalu memiliki lingkungan kantor konvensional tempat mereka dapat membangun relasi. Karena itu, komunitas, coworking space, acara industri, hingga kafe dapat menjadi tempat alternatif untuk bertemu orang baru. Dalam situasi seperti ini, kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi menjadi bagian dari modal sosial yang cukup penting.

Namun, networking juga memiliki sisi lain. Jika semua pertemuan dianggap sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau peluang, hubungan sosial dapat terasa terlalu transaksional. Seseorang mungkin bertanya, “Apa manfaatnya berteman dengan orang ini?” sebelum benar-benar mengenal orang tersebut. Padahal, hubungan yang kuat tidak selalu menghasilkan manfaat secara langsung. Pertemanan, rasa percaya, dan kesamaan minat tetap menjadi bagian penting dalam membangun koneksi yang bertahan lama.

Karena itu, networking yang sehat bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin kontak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang memiliki nilai bagi kedua pihak. Mendengarkan, berbagi pengetahuan, menghargai waktu orang lain, dan tetap menjaga komunikasi setelah pertemuan jauh lebih berarti daripada sekadar bertukar kartu nama atau mengikuti akun media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara anak muda bersosialisasi terus menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan sosial dan dunia kerja. Nongkrong masih menjadi aktivitas untuk bersantai, tetapi kini juga dapat menjadi ruang untuk bertukar ide, membangun komunitas, dan menemukan peluang baru. Batas antara pertemanan, komunitas, dan networking pun semakin tipis. Tantangannya adalah tetap menjadikan hubungan antarmanusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar menjadikannya alat untuk mencapai sesuatu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....