Mengapa Gaya Hidup Sederhana Mulai Terlihat Menarik bagi Masyarakat Urban?
- 20 Agt 2026 23:33 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hidup di kota besar sering identik dengan aktivitas yang padat, tuntutan pekerjaan, mobilitas tinggi, serta budaya konsumsi yang terus berkembang. Di tengah kondisi tersebut, muncul kecenderungan menarik: gaya hidup sederhana justru mulai terlihat semakin menarik. Sederhana bukan berarti hidup serba kekurangan, melainkan kemampuan untuk memilih apa yang benar-benar dibutuhkan dan mengurangi hal-hal yang tidak memberikan nilai berarti. Fenomena ini membuat konsep minimalisme, decluttering, hingga mindful consumption semakin banyak diperbincangkan.
Salah satu alasan utamanya adalah keinginan untuk mengurangi beban dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat urban berhadapan dengan berbagai bentuk tekanan, mulai dari pekerjaan, kemacetan, biaya hidup, hingga derasnya informasi dari media sosial. Memiliki terlalu banyak barang, aktivitas, bahkan pilihan terkadang justru menambah beban. Penelitian mengenai minimalisme yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology pada 2025 menemukan bahwa pola hidup minimalis berkaitan dengan jejak ekologis yang lebih rendah serta beberapa indikator kesejahteraan yang lebih baik.
Faktor ekonomi juga membuat gaya hidup sederhana semakin relevan. Ketika harga berbagai kebutuhan meningkat, mengurangi pembelian yang tidak diperlukan dapat menjadi cara untuk mengatur keuangan dengan lebih rasional. Seseorang tidak lagi merasa harus membeli sesuatu hanya karena sedang tren atau banyak digunakan orang lain. Penelitian mengenai motivasi konsumsi minimalis pada 2025 menunjukkan bahwa sebagian orang memilih minimalisme karena ingin menghemat keuangan, mengurangi stres, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Media sosial juga ikut mengubah cara masyarakat memandang kesederhanaan. Jika sebelumnya media sosial banyak menampilkan gaya hidup mewah sebagai simbol keberhasilan, kini muncul pula konten yang memperlihatkan kamar yang rapi, pakaian secukupnya, penggunaan barang dalam jangka panjang, hingga aktivitas sederhana seperti memasak dan berjalan kaki. Di Indonesia, sebuah penelitian terhadap pengguna Instagram dan TikTok dari kalangan anak muda menemukan bahwa penggunaan media sosial dan FoMO turut berkaitan dengan kecenderungan konsumsi minimalis.
Berdasarkan berbagai penelitian mengenai minimalisme, konsumsi sadar, kesejahteraan psikologis, dan perubahan perilaku konsumen yang dilansir dari berbagai sumber, ketertarikan terhadap gaya hidup sederhana bukan sekadar tren estetika, tetapi juga berkaitan dengan keinginan untuk memiliki kontrol lebih besar atas kehidupan. Studi terhadap individu yang menjalani gaya hidup minimalis di Indonesia pada 2025, misalnya, menemukan persepsi adanya peningkatan kesejahteraan, kemandirian, kualitas hubungan, serta kemampuan mengelola kehidupan setelah menerapkan prinsip kesederhanaan.
Namun, hidup sederhana tidak harus diterapkan secara ekstrem. Intinya bukan tentang seberapa sedikit barang yang dimiliki, melainkan seberapa sadar seseorang dalam menentukan apa yang memang penting. Bagi masyarakat urban yang hidup dalam lingkungan penuh tuntutan dan pilihan, kesederhanaan bisa menjadi bentuk kontrol atas kehidupan sendiri. Bukan berarti meninggalkan kenyamanan atau berhenti menikmati hidup, tetapi mulai membedakan antara sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dengan sesuatu yang hanya diinginkan karena tekanan tren, lingkungan, atau media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....