Aktivitas Tarek Pukat di Aceh, Tradisi Nelayan yang Sarat Nilai Kebersamaan

  • 16 Apr 2026 17:52 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Aktivitas tarek pukat masih menjadi pemandangan khas di sejumlah pesisir Kota Lhokseumawe, Aceh. Tradisi menangkap ikan secara bersama-sama ini tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian nelayan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat pesisir.

Di kawasan pantai seperti Ujong Blang dan Hagu Teungoh, aktivitas tarek pukat umumnya dilakukan pada pagi dan sore hari saat kondisi laut relatif tenang. Prosesnya dimulai dengan menebarkan jaring atau pukat ke laut menggunakan perahu kecil, kemudian para nelayan secara bersama-sama menarik jaring tersebut dari bibir pantai.

Pemandangan ini kerap menarik perhatian masyarakat dan pengunjung. Para nelayan tampak berbaris sambil menarik tali pukat secara serempak, menciptakan ritme kerja yang kompak. Aktivitas ini tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kekompakan agar hasil tangkapan maksimal.

Menurut keterangan nelayan setempat, kegiatan tarek pukat biasanya berlangsung selama satu hingga dua jam. Dalam prosesnya, para nelayan saling membantu untuk meringankan beban menarik jaring dari tengah laut ke daratan.

Lebih dari sekadar mencari ikan, tarek pukat juga mengandung nilai sosial yang tinggi. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kerja sama, kebersamaan, dan berbagi hasil tangkapan. Bahkan, hasil ikan yang didapat sering dibagi secara merata di antara para nelayan yang terlibat.

Keberadaan tarek pukat juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Aceh. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga meskipun teknologi penangkapan ikan modern semakin berkembang.

Selain itu, aktivitas ini juga sering diabadikan dalam seni budaya, seperti tari tradisional Tarek Pukat yang menggambarkan semangat kerja keras dan kebersamaan para nelayan.

Dengan segala nilai yang terkandung di dalamnya, tarek pukat bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Lhokseumawe. Upaya pelestarian tradisi ini diharapkan terus dilakukan agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai kearifan lokal yang dimiliki daerahnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....