Riset Peneliti Lund University Soroti Identitas Etnis Tionghoa di Serambi Mekkah
- 28 Sep 2026 18:05 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Pidie - Keberadaan etnis Tionghoa di Provinsi Aceh memiliki akar sejarah yang kuat, yang telah terjalin sejak jalur perdagangan dibuka jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda mengonsolidasikan kekuasaannya pada abad ke-19. Fakta sosial dan sejarah ini dikupas secara mendalam oleh Chontida Auikool, seorang PhD Candidate dari Lund University, Swedia, melalui artikelnya yang dirilis di jaringan media akademis The Conversation.
Melalui riset etnografi yang dilakukannya, Chontida menyoroti kisah seorang warga bernama Ci Mary, wanita yang lahir dan besar di Sigli, Kabupaten Pidie. Ci Mary menjadi saksi hidup atas berbagai perubahan drastis di Aceh, mulai dari tekanan di era Orde Baru hingga tragedi dahsyat Tsunami 2004.
Chontida mencatat, pada masa Orde Baru, penutupan paksa sekolah-sekolah Tionghoa membuat ayah Ci Mary yang berprofesi sebagai guru Mandarin kehilangan pekerjaannya. Akibatnya, generasi seperti Ci Mary tak lagi menuturkan bahasa Mandarin. Mereka menyerap asimilasi budaya yang kuat dengan fasih berbahasa Hakka, Bahasa Indonesia, serta Bahasa Aceh.
Dalam penelitiannya di Sigli, Chontida Auikool mendapati bahwa saat ini populasi Tionghoa Aceh di kota tersebut terus menyusut, hanya menyisakan sekitar 20 keluarga. Gelombang emigrasi terus berlanjut, terutama didorong oleh generasi muda yang memilih pergi meninggalkan daerahnya demi mencari peluang pendidikan dan masa depan ekonomi yang lebih baik di tempat lain.
Bagi Ci Mary, kehilangan ayah dan anak perempuannya akibat hempasan tsunami telah memaksanya bermigrasi ke Banda Aceh, sekaligus membawanya pada perjalanan spiritual baru. Meski dihadapkan pada memori kelam dan kehilangan, Ci Mary tetap merasa terikat secara mendalam dengan tanah kelahirannya, mengidentifikasi dirinya tidak hanya sebagai Tionghoa Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari Orang Aceh.
Lebih lanjut, Chontida menjelaskan bahwa toleransi di Aceh sudah berjalan. Kegiatan budaya dan perayaan keagamaan non-Muslim dapat diselenggarakan di ruang-ruang tertutup dengan izin dan perlindungan khusus. Meski berstatus minoritas, warga Tionghoa Aceh tidak pernah kehilangan harapan.
"Saat saya berbincang dengan Tionghoa Aceh untuk penelitian saya, saya menemukan bahwa mereka bercita-cita untuk berkontribusi pada masa depan Aceh, membayangkan tempat yang damai bagi keturunan mereka," papar Chontida Auikool seperti dilansir dari The Conversation.
Sebagai konklusi dari studinya, sang peneliti menegaskan bahwa untuk menciptakan kedamaian yang berkelanjutan, pemerintah maupun masyarakat tidak bisa hanya bertumpu pada toleransi dan multikulturalisme di permukaan semata. Dibutuhkan langkah besar menuju keadilan dan kesetaraan yang bermakna agar warga Tionghoa Aceh pada akhirnya bisa hidup semestinya dengan normal di bumi Serambi Mekkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....