Kebaikan Bukan Sekadar Ibadah, Ikhtiar dan Berbagi juga Penting

  • 01 Sep 2026 08:52 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Menjadi orang baik dalam Islam tidak hanya diukur dari seberapa rajin seseorang beribadah, tetapi juga dari kemauan untuk bekerja secara halal, menjaga kehormatan diri, membangun silaturahmi dan berbagi dengan sesama.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Damanhur Abbas dalam program Tausiah Sore RRI Lhokseumawe pada Senin, 31Agustus 2026. Dalam tausiahnya, ia menjelaskan makna orang baik yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah SWT, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menjalani kehidupan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Menurut Ustadz Damanhur, salah satu gambaran orang baik disampaikan oleh sahabat Nabi, Said bin Musayyib. Orang baik bukanlah mereka yang hanya berpangku tangan dengan alasan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.

“Orang baik itu adalah orang yang gigih mencari harta secara halal, bukan menimbunnya, sehingga ia tidak menjadi beban atau hina di hadapan manusia, serta dapat memelihara silaturahim dan menunaikan hak-hak sesama,” ujar Ustadz Damanhur Abbas dalam Tausiahnya.

Ia menjelaskan, bekerja dan berusaha secara produktif menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan diri. Rezeki memang merupakan ketentuan Allah SWT, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan mencari penghasilan melalui cara yang halal.

Sikap produktif tersebut juga harus diiringi dengan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Ustadz Damanhur mengingatkan agar tidak menjadikan harta sebagai sesuatu yang hanya dikumpulkan untuk kepentingan pribadi, terlebih jika dilakukan dengan cara menimbun barang sehingga dapat merugikan orang lain.

Selain bekerja, orang baik juga ditandai dengan kemampuan menjaga diri agar tidak mudah bergantung kepada orang lain. Penghasilan yang diperoleh dari usaha yang halal dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga martabat dan kemandirian seseorang dalam menjalani kehidupan.

Kebaikan kemudian tidak berhenti pada diri sendiri. Menurut Ustadz Damanhur, menjaga silaturahmi dan memenuhi hak orang lain juga menjadi bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Hal itu dapat dilakukan melalui zakat, infak, sedekah maupun wakaf.

Ia mengingatkan, seseorang tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah untuk mulai berbagi. Kebiasaan bersedekah justru dapat dilatih dari hal-hal kecil sesuai kemampuan masing-masing.

“Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Berbagi itu bisa dimulai dari yang kecil, karena yang penting adalah membiasakan diri untuk peduli dan memberikan manfaat kepada orang lain,” pesannya.

Ustadz Damanhur juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal. Besar kecilnya pemberian bukan satu-satunya ukuran, karena nilai amal di sisi Allah SWT juga berkaitan erat dengan niat orang yang melakukannya.

Menurutnya, publikasi kegiatan penggalangan dana atau ajakan bersedekah tetap dapat dilakukan apabila tujuannya untuk memotivasi orang lain melakukan kebaikan. Namun, niat tetap harus dijaga agar amal tidak semata-mata dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia.

Menutup tausiah, Ustadz Damanhur mengajak untuk terus berbuat baik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kebaikan, menurutnya, perlu dijaga sebagai kebiasaan meskipun dalam perjalanannya seseorang menghadapi berbagai tantangan dan rintangan.

Menjadi orang baik bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bekerja secara halal, menjaga kehormatan diri, mempererat silaturahmi, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....