Benarkah Makin Canggih Teknologi, Makin Malas Bergerak?

  • 30 Agt 2026 13:11 WIB
  •  Lhokseumawe

Rarai.CO.ID, Lhokseumawe — Kehadiran teknologi membuat banyak aktivitas sehari-hari menjadi jauh lebih mudah. Pesan makanan bisa dari rumah, berbelanja cukup lewat ponsel, belajar bisa dilakukan secara daring, bahkan bekerja pun tidak selalu harus berpindah tempat. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan: apakah semakin canggih teknologi justru membuat kita semakin jarang bergerak?

Kebiasaan duduk terlalu lama memang menjadi perhatian kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 hingga 300 menit dalam seminggu. Untuk anak-anak dan remaja usia 5 sampai 17 tahun, WHO merekomendasikan rata-rata 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari. WHO juga menganjurkan agar waktu yang dihabiskan dalam kondisi sedentari atau minim gerak, terutama untuk hiburan menggunakan layar, dibatasi.

Menurut kajian WHO, semakin banyak waktu sedentari pada anak dan remaja berkaitan dengan sejumlah hasil kesehatan yang kurang baik, termasuk kebugaran yang lebih rendah dan durasi tidur yang lebih pendek. Namun, bukan berarti semua aktivitas yang dilakukan sambil duduk itu buruk. Belajar, membaca, menggambar, atau mengerjakan tugas tetap memiliki manfaat. Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara waktu duduk dengan aktivitas fisik.

Kondisi tersebut juga dirasakan banyak anak muda dalam kehidupan sehari-hari. Salah seorang anak muda di Lhokseumawe Nasrul mengaku teknologi memang membuat dirinya lebih sering duduk, terutama ketika menggunakan ponsel untuk menonton video, bermain gim, atau berselancar di media sosial. “Kadang niatnya cuma sebentar buka HP, ternyata sudah lama. Kalau tidak ada kegiatan lain, memang bisa seharian lebih banyak duduk,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Humaira, menurutnya, teknologi sebenarnya tidak selalu membuat orang malas bergerak karena teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas fisik. “Sekarang banyak aplikasi yang bisa menghitung langkah atau mengingatkan untuk bergerak. Jadi sebenarnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kalau HP hanya untuk rebahan memang bikin kurang gerak, tapi bisa juga dipakai untuk mencari aktivitas olahraga,” katanya.

Karena itu, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi malas bergerak. Persoalannya lebih kepada kebiasaan dan bagaimana teknologi digunakan. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, memilih naik tangga, melakukan pekerjaan rumah, atau menyempatkan diri bergerak di sela aktivitas tetap termasuk aktivitas fisik. WHO menegaskan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah berapa pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi, teknologi boleh semakin canggih, tetapi jangan sampai tubuh justru semakin jarang diajak bergerak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....