Mengapa Banyak Anak Muda Memilih Kerja Freelance?

  • 27 Agt 2026 11:10 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pola kerja generasi muda mulai berubah seiring berkembangnya ekonomi digital. Selain pekerjaan tetap, semakin banyak anak muda memilih pekerjaan lepas atau freelance karena menawarkan fleksibilitas waktu, kesempatan mengerjakan berbagai proyek dan peluang memperoleh penghasilan dari lebih dari satu sumber.

Perubahan tersebut berlangsung ketika pasar kerja juga mengalami transformasi akibat digitalisasi. Pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan di kantor kini dapat dikerjakan dari rumah atau lokasi lain selama pekerja memiliki perangkat dan koneksi internet.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja berstatus berusaha sendiri di Indonesia mencapai sekitar 21,7 juta orang pada Februari 2026. Kelompok tersebut merupakan bagian dari pekerja yang tidak berstatus sebagai buruh atau karyawan dan dapat mencakup berbagai bentuk pekerjaan mandiri.

Namun, angka pekerja mandiri tidak dapat disamakan secara langsung dengan jumlah freelancer karena konsep freelance memiliki karakteristik yang lebih luas. Meski demikian, data tersebut menunjukkan besarnya aktivitas kerja yang berada di luar hubungan kerja sebagai karyawan tetap.

Perkembangan platform digital juga membuat pekerjaan freelance semakin mudah diakses. Desainer grafis, penulis, penerjemah, fotografer, editor video, pengembang perangkat lunak hingga pekerja pemasaran digital dapat menawarkan jasa kepada klien tanpa harus bekerja secara permanen di satu perusahaan.

Fleksibilitas menjadi salah satu alasan yang membuat pola kerja tersebut menarik bagi generasi muda.

Pekerja dapat menentukan proyek yang ingin diambil, mengatur waktu kerja dan dalam kondisi tertentu bekerja untuk beberapa klien sekaligus.

Namun, fleksibilitas tersebut memiliki konsekuensi berupa ketidakpastian pendapatan.

Berbeda dengan pekerja tetap yang umumnya menerima gaji secara berkala, pendapatan freelancer bergantung pada jumlah proyek, nilai kontrak dan keberhasilan mendapatkan klien berikutnya.

Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu karakteristik utama pekerjaan freelance.

International Labour Organization (ILO) menjelaskan bahwa bentuk pekerjaan berbasis platform digital dapat memberikan fleksibilitas dan membuka peluang memperoleh pendapatan, tetapi pekerja juga dapat menghadapi persoalan seperti ketidakpastian penghasilan, perlindungan sosial yang terbatas dan kondisi kerja yang tidak selalu sama dengan pekerja dalam hubungan kerja formal.

Kondisi tersebut membuat keputusan menjadi freelancer tidak hanya berkaitan dengan preferensi gaya hidup, tetapi juga pertimbangan ekonomi.

Bagi sebagian anak muda, freelance dapat menjadi pilihan untuk memperoleh pengalaman sekaligus membangun portofolio sebelum masuk ke pekerjaan formal. Bagi lainnya, pekerjaan tersebut menjadi sumber pendapatan utama.

Perkembangan teknologi juga membuat batas antara pekerjaan formal dan freelance semakin sulit dibedakan.

Seseorang dapat bekerja sebagai karyawan tetap pada sebuah perusahaan sekaligus mengambil proyek freelance di luar jam kerja. Pola tersebut menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam, tetapi juga meningkatkan tuntutan terhadap waktu dan kemampuan mengatur pekerjaan.

Dari sisi pendapatan, freelance juga memiliki karakteristik yang berbeda.

Pendapatan dapat meningkat ketika seorang pekerja memiliki keterampilan khusus dan mampu mendapatkan proyek dengan nilai lebih tinggi. Namun, pendapatan juga dapat turun ketika permintaan proyek berkurang.

Karena itu, pendapatan bulanan freelancer tidak selalu dapat diprediksi seperti gaji pekerja tetap.

Dalam perspektif penelitian ketenagakerjaan, perubahan preferensi generasi muda terhadap pekerjaan dapat dilihat melalui beberapa faktor, seperti fleksibilitas waktu, tingkat pendapatan, keamanan kerja, kesempatan pengembangan karier, beban kerja dan akses terhadap perlindungan sosial.

Penelitian juga dapat membandingkan kepuasan kerja antara pekerja freelance dan pekerja tetap berdasarkan faktor-faktor tersebut.

Persoalan perlindungan sosial menjadi salah satu hal penting dalam pola kerja freelance.

Pekerja mandiri harus mengatur sendiri sejumlah kebutuhan yang pada pekerjaan formal biasanya berkaitan dengan pemberi kerja, seperti jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, tabungan hari tua dan dana darurat.

Artinya, penghasilan yang terlihat lebih besar belum tentu berarti kondisi finansial yang lebih aman apabila tidak disertai perencanaan keuangan dan perlindungan sosial.

Di sisi lain, meningkatnya pekerjaan freelance dapat memberikan peluang bagi anak muda yang memiliki keterampilan tertentu tetapi sulit mendapatkan pekerjaan formal.

Pekerja dapat menawarkan jasa ke pasar yang lebih luas tanpa dibatasi lokasi geografis. Seorang freelancer di daerah dapat mengerjakan proyek untuk klien dari kota lain bahkan dari luar negeri selama memiliki kemampuan dan akses digital yang memadai.

Kondisi tersebut menjadi salah satu keuntungan ekonomi digital bagi tenaga kerja muda.

Namun, persaingan juga menjadi semakin luas karena freelancer tidak hanya bersaing dengan pekerja dari daerah yang sama, tetapi dengan pekerja dari berbagai wilayah.

Dengan demikian, kemampuan teknis saja tidak selalu cukup. Pekerja juga membutuhkan kemampuan membangun portofolio, mencari klien, bernegosiasi, mengelola waktu dan mempertahankan kualitas pekerjaan.

Perubahan pola kerja tersebut menunjukkan bahwa pilihan antara menjadi pekerja tetap atau freelancer semakin bergantung pada kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.

Bagi anak muda yang mengutamakan fleksibilitas dan memiliki keterampilan yang dapat dijual secara digital, freelance dapat menjadi alternatif pekerjaan.

Namun bagi mereka yang membutuhkan pendapatan stabil, jenjang karier yang jelas dan perlindungan sosial dari pemberi kerja, pekerjaan formal tetap memiliki daya tarik.

Karena itu, meningkatnya minat terhadap freelance tidak selalu berarti generasi muda tidak menginginkan pekerjaan tetap.

Fenomena tersebut lebih menunjukkan bahwa preferensi terhadap pekerjaan mulai berubah, seiring dengan munculnya teknologi digital dan bentuk pekerjaan baru.

Tantangannya adalah memastikan fleksibilitas tersebut tidak dibayar dengan ketidakpastian yang berlebihan.

Sebab, pekerjaan yang memberikan kebebasan mengatur waktu akan menjadi pilihan yang menarik selama pekerja tetap memiliki pendapatan yang layak, perlindungan sosial dan kepastian hak sebagai tenaga kerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....