Skill Digital Jadi Syarat Kerja, Apakah Pendidikan Kita Sudah Siap?
- 27 Agt 2026 11:19 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kemampuan digital semakin menjadi bagian penting dalam persaingan memasuki dunia kerja. Perusahaan tidak lagi hanya mempertimbangkan ijazah dan latar belakang pendidikan, tetapi juga kemampuan calon pekerja menggunakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sistem pendidikan Indonesia, terutama ketika perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum dan kebutuhan keterampilan di dunia kerja.
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat nilai Indeks Masyarakat Digital Indonesia atau IMDI 2025 mencapai 44,53, meningkat 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Indeks tersebut mengukur kondisi masyarakat digital Indonesia melalui sejumlah pilar, termasuk infrastruktur dan ekosistem, keterampilan digital, pekerjaan, serta pemberdayaan.
Kenaikan indeks menunjukkan adanya perkembangan kemampuan digital masyarakat. Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan Indonesia menuju masyarakat yang benar-benar siap menghadapi ekonomi digital masih berlangsung.
Persoalan keterampilan digital juga berkaitan langsung dengan kebutuhan tenaga kerja. World Bank dalam kajiannya mengenai keterampilan tenaga kerja Indonesia menyoroti adanya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja. Perubahan teknologi membuat kebutuhan tersebut terus berkembang, sehingga pendidikan dan pelatihan dituntut mampu menyesuaikan diri.
Dalam praktiknya, kemampuan digital yang dibutuhkan perusahaan tidak selalu berarti kemampuan menjadi programmer. Penggunaan perangkat lunak perkantoran, pengolahan data, komunikasi digital, keamanan informasi, pemanfaatan platform digital hingga penggunaan kecerdasan buatan kini semakin berkaitan dengan berbagai jenis pekerjaan.
World Bank juga menyebut digitalisasi mengubah pasar tenaga kerja dengan memunculkan jenis pekerjaan baru sekaligus mengubah pekerjaan yang sudah ada. Karena itu, keterampilan digital menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan tenaga kerja agar dapat mengikuti perubahan tersebut.
Persoalannya, akses terhadap teknologi tidak selalu berarti seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara produktif.
Sebuah kajian yang diterbitkan dalam jurnal Kementerian Komunikasi dan Digital menemukan bahwa perkembangan digitalisasi berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian teknologi informasi dan komunikasi khusus, sementara pendidikan dan pelatihan yang tersedia masih menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara sekadar menggunakan teknologi dengan memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan dunia kerja.
Seorang siswa atau mahasiswa misalnya dapat terbiasa menggunakan media sosial dan aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari, tetapi belum tentu memiliki kemampuan mengolah data, menggunakan perangkat lunak profesional, menjaga keamanan akun dan data, maupun memanfaatkan kecerdasan buatan secara produktif.
Kesenjangan tersebut kemudian dapat berpengaruh ketika lulusan memasuki pasar kerja.
Penelitian mengenai tenaga kerja digital Indonesia juga menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada jumlah tenaga kerja, tetapi pada kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Sustainability memperkirakan pasokan lulusan tenaga kerja digital pada periode 2021–2025 dapat mencapai sekitar 3,37 juta orang, sementara kebutuhan pekerjaan digital diperkirakan sekitar 3,22 juta posisi. Namun, penelitian tersebut menekankan bahwa kelebihan jumlah tenaga kerja tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila kompetensi yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Indonesia bukan hanya berapa banyak lulusan yang dihasilkan, tetapi juga seberapa relevan keterampilan yang mereka miliki dengan pekerjaan yang tersedia.
Perubahan teknologi juga membuat kebutuhan tersebut tidak berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi. Pekerja dituntut terus memperbarui kemampuan melalui pelatihan, sertifikasi maupun pengalaman kerja.
Bagi lembaga pendidikan, kondisi ini menjadi tantangan untuk memperkuat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman menggunakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Sementara bagi pemerintah dan dunia usaha, kesenjangan keterampilan digital dapat menjadi persoalan yang perlu ditangani bersama karena perubahan teknologi berlangsung lintas sektor.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai kesiapan pendidikan Indonesia menghadapi dunia kerja digital tidak cukup dijawab dengan melihat jumlah sekolah, perguruan tinggi atau lulusan yang dihasilkan.
Yang lebih penting adalah apakah keterampilan yang diperoleh lulusan hari ini masih sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan ketika mereka memasuki pasar kerja.
Jika perubahan teknologi berlangsung lebih cepat daripada perubahan kompetensi, maka kesenjangan tersebut berpotensi semakin lebar.
Sebaliknya, apabila pendidikan mampu mengikuti kebutuhan industri dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk menguasai keterampilan digital secara praktis, transformasi teknologi justru dapat menjadi peluang untuk memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....