AI Masuk Dunia Kerja, Pekerjaan Apa yang Paling Terancam?

  • 27 Agt 2026 11:19 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia bekerja. Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia kini mulai dapat dibantu, bahkan sebagian tugasnya dapat dilakukan secara otomatis menggunakan teknologi AI.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman AI terhadap dunia kerja tidak berarti seluruh profesi akan hilang.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan sekitar 21,7 persen pekerjaan di Indonesia memiliki tingkat paparan terhadap teknologi generative AI (GenAI). Meski demikian, hanya sekitar 3 hingga 4 persen pekerjaan yang berada dalam kategori paparan tertinggi dengan potensi risiko penggantian tenaga manusia yang lebih besar.

ILO menyebut sebagian besar pekerjaan lebih mungkin mengalami transformasi dibandingkan hilang sepenuhnya, karena teknologi AI cenderung mengambil alih sebagian tugas dalam suatu pekerjaan, sementara tugas lainnya tetap membutuhkan keterlibatan manusia.

Pekerjaan yang memiliki banyak tugas rutin dan dapat dilakukan berdasarkan pola atau instruksi berulang menjadi kelompok yang lebih mudah terdampak otomatisasi.

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menunjukkan sejumlah pekerjaan administratif dan pekerjaan yang bersifat clerical termasuk kelompok yang diperkirakan mengalami penurunan hingga 2030. Di antaranya kasir dan petugas tiket, asisten administrasi, sekretaris eksekutif, pekerja percetakan serta akuntan dan auditor.

Perkembangan AI dan teknologi pemrosesan informasi disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penurunan kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan tersebut.

Di sisi lain, teknologi yang sama justru menciptakan permintaan baru terhadap pekerjaan berbasis teknologi. World Economic Forum menempatkan spesialis big data, insinyur fintech, spesialis AI dan machine learning serta pengembang perangkat lunak sebagai sejumlah pekerjaan yang diperkirakan tumbuh paling cepat hingga 2030.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya menjadi teknologi yang menggantikan sebagian pekerjaan, tetapi juga menciptakan kebutuhan terhadap keterampilan baru.

Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 yang menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan pekerjaan di enam benua menemukan bahwa lowongan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh sekitar 69 persen, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang sebesar 9 persen.

PwC juga mencatat pekerja dengan keterampilan AI memperoleh rata-rata premi upah 62 persen dibandingkan pekerja tanpa keterampilan tersebut.

Namun, perubahan paling besar justru terjadi pada jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.

Pekerjaan yang terdampak AI semakin membutuhkan kemampuan mengambil keputusan, kreativitas, kepemimpinan dan kemampuan beradaptasi. Analisis PwC terhadap pekerjaan tingkat pemula di Amerika Serikat menunjukkan posisi entry-level yang banyak terpapar AI kini tujuh kali lebih mungkin membutuhkan keterampilan yang sebelumnya identik dengan posisi senior.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena AI dapat mengambil alih sebagian tugas rutin yang selama ini menjadi tahap awal bagi pekerja untuk memperoleh pengalaman sebelum naik ke posisi yang lebih tinggi.

Di Indonesia, penggunaan AI juga mulai menunjukkan perkembangan. Survei PwC 2025 mencatat 69 persen responden Indonesia telah menggunakan GenAI dalam satu tahun terakhir, sementara 16 persen mengaku menggunakannya setiap hari.

Penggunaan AI bahkan dilaporkan memberikan dampak positif terhadap produktivitas pekerja. Di Indonesia, 96 persen pengguna GenAI harian melaporkan peningkatan produktivitas, dibandingkan 75 persen pada pengguna yang tidak rutin menggunakan teknologi tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama dunia kerja ke depan kemungkinan bukan sekadar apakah manusia akan digantikan AI, melainkan pekerja mana yang mampu beradaptasi dengan AI dan pekerja mana yang tidak.

Bagi pekerjaan yang memiliki banyak tugas administratif, pengolahan informasi, penulisan rutin atau pekerjaan berulang, sebagian tugas dapat semakin mudah dilakukan menggunakan AI.

Sementara pekerjaan yang membutuhkan interaksi manusia, pertimbangan, kreativitas, kepemimpinan, keterampilan fisik atau keputusan dalam situasi kompleks cenderung memiliki tingkat perlindungan yang lebih besar dari otomatisasi penuh.

Karena itu, perkembangan AI dapat mengubah komposisi pekerjaan tanpa harus menghilangkan seluruh profesi.

Bagi tenaga kerja Indonesia, perubahan tersebut membuat peningkatan keterampilan menjadi semakin penting. Kemampuan menggunakan AI, memahami data, berpikir kritis, berkomunikasi dan mengambil keputusan dapat menjadi pembeda dalam persaingan pasar kerja.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai masa depan pekerjaan bukan lagi sekadar “pekerjaan apa yang akan hilang karena AI?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah “bagian mana dari pekerjaan manusia yang akan dilakukan AI, dan keterampilan apa yang tetap membutuhkan manusia?”

Perubahan tersebut sudah berlangsung. Tantangannya kini bukan menghentikan AI masuk ke dunia kerja, tetapi memastikan tenaga kerja memiliki kemampuan untuk bekerja bersama teknologi tersebut.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....