Lisan yang Terjaga: Kunci Kesempurnaan Amal dalam Islam
- 23 Jul 2026 19:26 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Lisan adalah salah satu nikmat terbesar sekaligus ujian terberat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dalam ajaran Islam, ucapan yang keluar dari mulut seseorang tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin dari kualitas iman dan penjaga bagi bobot pahala amal ibadah. Banyak umat Muslim yang tekun menjalankan ibadah ritual seperti salat, puasa, dan zakat, namun sayangnya pahala tersebut terancam sirna akibat lisan yang tidak terjaga. Oleh karena itu, memahami peran lisan menjadi fondasi penting agar setiap amal kebaikan yang telah dikerjakan tidak terbuang sia-sia.
Seperti yang di sampaikan Ustadz Saiful Azhar, Lc., S.H., M.H., dalam tausiyah sore bahwa hal pertama yang harus dipahami oleh umat adalah bahwa lisan memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap pahala amal soleh. Perilaku seperti ghibah (menggunjing), fitnah, adu domba, hingga berkata kasar dapat mengikis habis ganjaran kebaikan yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang golongan orang yang bangkrut (muflis) di hari kiamat, yaitu mereka yang datang membawa pahala ibadah melimpah, tetapi pahala tersebut harus dibagi-bagikan kepada orang lain sebagai ganti atas kedzaliman lisan yang pernah mereka lakukan di dunia.
Sebaliknya, lisan yang digunakan untuk kebaikan mampu melipatgandakan bobot amal dan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah SWT. Setiap tutur kata yang santun, kalimat dzikir, nasihat yang menyejukkan, serta ucapan yang mendamaikan dua orang yang berselisih bernilai sedekah di mata syariat. Lisan yang terbiasa basah dengan kalimat-kalimat tayibah akan membentengi hati dari sifat sombong dan iri hati, sehingga setiap amal ibadah lain yang dikerjakan dapat ditunaikan dengan niat yang murni dan penuh keikhlasan.
Pada akhirnya, mengendalikan lisan adalah wujud nyata dari kematangan iman dan jalan utama menuju keselamatan dunia maupun akhirat. Umat Islam dituntut untuk senantiasa berpikir dan mempertimbangkan setiap kata sebelum diucapkan, sesuai dengan arahan Nabi untuk berkata baik atau lebih baik diam. Dengan menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia dan dosa, kita tidak hanya melestarikan pahala dari amal yang telah dilakukan, tetapi juga menjamin lahirnya kedamaian dalam hubungan sosial bermasyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....