Sambut Maulid Nabi, 55 Santri Dayah Nurul Iman Alue Bungkoh Mulai Belajar Meudike
- 08 Agt 2026 08:41 WIB
- Lhokseumawe
RRI. CO. ID,Aceh Utara, menyambut hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW, Dayah Nurul Iman Gampong Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, mulai menggelar kegiatan belajar zikir atau meudike (Lide) Maulid Nabi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan dayah dalam menyambut bulan Maulid sekaligus upaya melestarikan tradisi keagamaan masyarakat Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sebanyak 55 santri Dayah Nurul Iman mengikuti pembelajaran zikir (Lide) yang dipimpin oleh Tgk Edi Sabana selaku ketua zikir (Like). Para santri tidak hanya belajar lantunan zikir dan pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi juga mulai menerima undangan dikeu dari masyarakat untuk mengikuti kegiatan Maulid di berbagai tempat.
Pimpinan Dayah Nurul Iman, Waled Abd Majid Amin, mengatakan kegiatan belajar dikeu merupakan bagian penting dalam mempersiapkan para santri menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Kegiatan belajar dikeu ini bukan hanya untuk mempersiapkan santri dalam menghadapi acara Maulid, tetapi juga untuk menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Para santri kita dididik agar mampu menjaga tradisi keagamaan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat Aceh,” ujar Waled Abd Majid Amin.
Menurutnya, keterlibatan santri dalam kegiatan Maulid juga menjadi bagian dari proses pendidikan di dayah. Para santri diharapkan tidak hanya memperoleh ilmu agama secara teori, tetapi juga mampu mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kita berharap para santri mampu menjaga silaturahmi, kebersamaan dan tradisi keagamaan, serta menjadi generasi yang mencintai Rasulullah SAW,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Zikir (Like) Tgk Edi Sabana mengatakan, latihan dilakukan secara bertahap agar para santri memiliki kesiapan ketika mendapat undangan dari masyarakat untuk mengikuti kegiatan Maulid.
“Sebanyak 55 santri mengikuti belajar dikeu. Mereka kita latih mulai dari hafalan, irama, kekompakan suara hingga tata cara pelaksanaan dikeu. Dengan latihan ini, ketika mendapat undangan dari masyarakat, santri sudah siap mengikuti kegiatan tersebut,” kata Tgk Edi Sabana.
Ia menilai tradisi meudike memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Aceh karena selain menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, juga menjadi wadah mempererat hubungan antara santri, dayah dan masyarakat.
“Yang paling penting adalah semangat mencintai Rasulullah SAW. Kita ingin para santri memahami bahwa kegiatan Maulid bukan hanya acara seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengingat perjuangan Rasulullah dan meneladani akhlak beliau,” ujarnya.
Tradisi Maulid yang Mengakar di Aceh
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki tempat yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi tersebut dikenal luas dengan sebutan Maulod dan telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam catatan sejarah Aceh, tradisi Maulid memiliki sejarah panjang. Salah satu catatan menyebutkan adanya wasiat Sultan Ali Mughayat Syah pada 12 Rabiul Awal 913 Hijriah atau 23 Juli 1507, yang antara lain berkaitan dengan pelaksanaan Maulid sebagai momentum mempererat tali silaturahmi antargampong. Meski demikian, bentuk pelaksanaan pada masa tersebut belum tentu sama persis dengan tradisi kenduri Maulid yang dikenal masyarakat Aceh saat ini.
Dalam perkembangannya, Maulid semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh. Peringatan Maulid kemudian berkembang tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang memperkuat silaturahmi, persaudaraan dan kepedulian sosial.
Di sejumlah daerah Aceh, Maulid identik dengan berbagai kegiatan seperti zikir, salawat, pembacaan dalail khairat, ceramah agama dan kenduri. Masyarakat juga menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk berkumpul serta berbagi dengan sesama.
Tradisi Maulid di Aceh bahkan dikenal dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni Maulid Awal pada Rabiul Awal, Maulid Tengah pada Rabiul Akhir, dan Maulid Akhir pada Jumadil Awal.
Wariskan Tradisi kepada Generasi Muda
Kegiatan belajar dikeu di Dayah Nurul Iman Alue Bungkoh menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana tradisi tersebut terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Dengan melibatkan 55 santri, dayah tidak hanya mempersiapkan mereka untuk memenuhi undangan Maulid masyarakat, tetapi juga memberikan ruang kepada para santri untuk belajar menjaga tradisi, membangun kebersamaan dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Waled Abd Majid Amin berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dan menjadi bagian dari pembinaan santri di Dayah Nurul Iman.
“Semoga para santri menjadi generasi yang mencintai Rasulullah SAW, berakhlak mulia, memahami nilai-nilai agama serta mampu menjaga tradisi keislaman yang baik di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....