AI Mulai Geser Pekerjaan Level Pemula

  • 28 Jul 2026 18:56 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor. Sejumlah laporan internasional menunjukkan bahwa pekerjaan level pemula atau entry level menjadi kelompok yang paling berpotensi terdampak akibat meningkatnya penggunaan AI di dunia kerja.

Laporan Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF) memperkirakan sekitar 92 juta pekerjaan akan tergantikan hingga 2030 akibat otomatisasi dan perkembangan teknologi, termasuk AI. Namun, di saat yang sama diperkirakan akan muncul 170 juta pekerjaan baru, sehingga secara bersih dunia diproyeksikan memperoleh tambahan sekitar 78 juta lapangan kerja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak sepenuhnya menghilangkan pekerjaan, melainkan mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan di pasar tenaga kerja.

WEF menyebutkan bahwa pekerjaan administratif, entri data, kasir, petugas layanan pelanggan, hingga staf administrasi termasuk profesi yang memiliki tingkat risiko otomatisasi lebih tinggi. Sebaliknya, profesi yang membutuhkan kreativitas, kemampuan analisis, kepemimpinan, serta interaksi sosial diperkirakan tetap mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.

Temuan serupa disampaikan Microsoft melalui Work Trend Index 2025. Berdasarkan survei terhadap puluhan ribu pekerja di berbagai negara, mayoritas pemimpin perusahaan menyatakan akan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Microsoft juga mencatat semakin banyak perusahaan yang mulai merekrut karyawan dengan kemampuan menggunakan AI sebagai salah satu syarat utama.

Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) dalam laporannya berjudul Gen-AI: Artificial Intelligence and the Future of Work memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di tingkat global akan terdampak oleh perkembangan AI. Di negara maju, angkanya bahkan mencapai sekitar 60 persen karena tingginya proporsi pekerjaan berbasis pengetahuan yang dapat dibantu oleh teknologi AI.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa dampak AI tidak selalu berupa penggantian tenaga kerja. Pada banyak kasus, AI justru berfungsi sebagai alat pendukung yang membantu pekerja menyelesaikan tugas lebih cepat dan meningkatkan produktivitas.

Di sisi lain, laporan AI Index Report 2025 yang diterbitkan Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) menunjukkan adopsi AI oleh perusahaan terus meningkat dalam dua tahun terakhir. AI kini banyak dimanfaatkan untuk pembuatan dokumen, analisis data, layanan pelanggan, pemrograman, pemasaran digital, hingga proses rekrutmen.

Para peneliti menilai perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap keterampilan digital semakin penting. Selain penguasaan AI, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan literasi data diperkirakan menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan di masa mendatang.

Meski demikian, berbagai lembaga internasional menegaskan bahwa AI tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia. Teknologi tersebut dipandang lebih berperan sebagai alat yang mengubah cara bekerja, sehingga pekerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan AI diperkirakan akan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar kerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....