Indonesia Emas 2045 Terancam? Talenta Terbaik Memilih Berkarya di Luar Negeri

  • 13 Jun 2026 18:42 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di tengah ambisi mewujudkan Indonesia Emas 2045, fenomena migrasi tenaga kerja terampil atau brain drain menjadi tantangan yang mulai mendapat perhatian. Semakin banyak generasi muda Indonesia yang memilih melanjutkan pendidikan maupun membangun karier di luar negeri dengan berbagai alasan, mulai dari kesempatan pengembangan diri hingga akses terhadap ekosistem kerja yang lebih kompetitif.

Laporan A Review of Indonesian Emigrants yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa lebih dari 53 ribu warga negara Indonesia bermigrasi ke negara-negara OECD pada 2019. Jepang dan Korea Selatan menjadi tujuan utama, disusul Amerika Serikat, Australia, Jerman, Inggris, dan Belanda. OECD juga mencatat bahwa migrasi tersebut banyak didorong oleh alasan pendidikan dan pekerjaan.

Menariknya, OECD menemukan bahwa warga Indonesia yang bermigrasi ke negara-negara OECD cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata penduduk di dalam negeri. Hampir setengah diaspora Indonesia di negara OECD tergolong berpendidikan tinggi, menunjukkan adanya seleksi positif terhadap kelompok yang memilih berkarier di luar negeri.

Fenomena ini menjadi perhatian karena Indonesia sedang memasuki fase penting pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Kementerian PPN/Bappenas menegaskan bahwa pembangunan SDM unggul merupakan salah satu fondasi utama dalam mencapai target tersebut. Pemerintah bahkan telah menyiapkan peta jalan pendidikan tinggi dan pemetaan kebutuhan SDM untuk mendukung sektor-sektor strategis nasional.

Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyebut transformasi pendidikan dan peningkatan kualitas talenta menjadi bagian penting dalam mencetak generasi yang kompetitif dan siap menghadapi tantangan masa depan. Upaya tersebut menjadi krusial mengingat bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan berlangsung selamanya.

Meski demikian, para pengamat menilai fenomena brain drain tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Dalam banyak kasus, tenaga profesional yang bekerja di luar negeri tetap dapat berkontribusi bagi negara asal melalui investasi, transfer pengetahuan, jaringan bisnis internasional, hingga kolaborasi riset.

Tantangan terbesar bagi Indonesia bukan semata-mata menghentikan talenta muda untuk pergi, melainkan menciptakan lingkungan yang mampu menarik mereka untuk kembali. Ketersediaan lapangan kerja berkualitas, dukungan terhadap riset dan inovasi, kepastian jenjang karier, serta iklim usaha yang kompetitif dinilai menjadi faktor penting dalam mempertahankan talenta terbaik bangsa.

Di era globalisasi, mobilitas sumber daya manusia merupakan hal yang sulit dihindari. Namun, jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi mengapa talenta muda pergi, melainkan bagaimana negara mampu memberikan alasan yang cukup kuat agar mereka memilih pulang dan membangun negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....