Kenapa Banyak Orang merasa Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain?
- 26 Mei 2026 09:51 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah merasa lelah seharian padahal tidak melakukan pekerjaan berat? Bangun tidur terasa tidak segar, duduk terlalu lama malah makin lesu, dan setelah seharian scrolling media sosial justru kepala terasa penuh. Fenomena ini semakin sering dirasakan banyak orang, terutama di era digital sekarang.
Capek ternyata tidak selalu berasal dari aktivitas fisik. Dalam psikologi, kelelahan juga bisa muncul dari beban mental, tekanan emosional, dan pola hidup yang terus membuat otak bekerja tanpa benar-benar beristirahat. Berikut adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan rasa capek tersebut:
Otak Kita Jarang Benar-Benar Diam
Secara fisik, seseorang mungkin tidak melakukan banyak hal. Namun secara mental, otak bisa bekerja terus-menerus. Saat membuka media sosial, membaca berita, membandingkan hidup dengan orang lain, memikirkan masa depan, atau mengkhawatirkan sesuatu, otak tetap memproses informasi tanpa henti.
Psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa otak manusia memiliki dua sistem berpikir. Sistem pertama bekerja cepat dan otomatis, sedangkan sistem kedua membutuhkan energi mental lebih besar untuk mengambil keputusan, menganalisis, dan mengontrol diri. Di era modern, manusia dipaksa menggunakan kedua sistem ini terus-menerus karena banjir informasi dan distraksi digital. Akibatnya, meskipun tubuh terlihat “diam”, energi mental tetap terkuras.
Baca juga: Dampak Kurang Minuman Vitamin DKelelahan Mental
Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering disebut mental fatigue atau kelelahan mental. Ini terjadi ketika otak terlalu lama menerima tekanan kognitif tanpa jeda yang cukup.
Psikolog Amerika Roy Baumeister melalui teorinya tentang ego depletion menjelaskan bahwa kemampuan manusia untuk fokus, mengontrol emosi, dan mengambil keputusan memiliki batas energi tertentu. Semakin sering seseorang berpikir, menahan emosi, atau membuat keputusan kecil sepanjang hari, semakin terkuras juga energi mentalnya.
Hal sederhana seperti memilih mau makan apa,membalas chat, melihat notifikasi, membandingkan diri di media sosial,atau memikirkan masa depan, semuanya menghabiskan kapasitas mental. Karena itu, banyak orang merasa lelah meski seharian hanya berada di kamar.
Media Sosial Membuat Otak Tidak Pernah Istirahat
Banyak orang menganggap scrolling sebagai bentuk istirahat. Padahal, dalam banyak kasus, itu justru membuat otak semakin aktif. Setiap notifikasi, video pendek, dan pergantian informasi cepat membuat otak sulit memasuki kondisi fokus mendalam maupun relaksasi penuh. Akibatnya, otak berada dalam kondisi “setengah bekerja” sepanjang waktu.
Kita memang tidak mengangkat beban fisik, tetapi otak terus menerima stimulus tanpa jeda. Ini mirip seperti membiarkan mesin menyala terus-menerus tanpa dimatikan.
Emosi yang Dipendam Juga Menguras Energi
Kelelahan tidak selalu berasal dari pekerjaan. Kadang yang membuat seseorang capek adalah emosi yang tidak selesai. Menahan marah, berpura-pura baik-baik saja, merasa cemas tentang masa depan, atau terus memikirkan ekspektasi orang lain dapat menguras energi psikologis secara perlahan.
Psikolog Susan David dalam bukunya Emotional Agility menjelaskan bahwa emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Emosi tersebut tetap bekerja di dalam pikiran dan tubuh, bahkan ketika seseorang tampak tenang dari luar.
Inilah sebabnya seseorang bisa merasa sangat lelah setelah mengalami tekanan emosional, walaupun tidak melakukan aktivitas berat.
Tubuh Modern Kurang Bergerak, Tapi Pikiran Terlalu Sibuk
Ironisnya, manusia modern sering mengalami kombinasi: tubuh kurang bergerak, tetapi pikiran terlalu aktif. Selain itu, terlalu lama duduk dan kurang aktivitas fisik juga dapat menurunkan energi tubuh secara keseluruhan. Jadi meskipun terlihat “istirahat”, tubuh sebenarnya tidak mendapatkan pemulihan optimal.
Jadi, kenapa banyak orang capek padahal nggak ngapa-ngapain?
Karena kelelahan modern bukan hanya soal fisik. Banyak orang sebenarnya terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menerima informasi, terlalu sering membandingkan diri, terlalu lama online, kurang tidur berkualitas, dan jarang memberi otak waktu untuk benar-benar diam. Tubuh mungkin tidak bergerak banyak, tetapi pikiran bekerja tanpa henti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....