Memaafkan Bukan Lemah, tapi Tanda Kuatnya Iman
- 08 Mei 2026 17:50 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Memaafkan kesalahan orang lain bukan sekadar etika sosial, tetapi juga menjadi salah satu karakter mulia yang dicintai Allah SWT. Hal tersebut disampaikan Ustadz Khairunnasri dalam program "Mutiara Pagi" pada Jumat, 8 Mei 2026 di Pro 1 RRI Lhokseumawe.
Ustadz Khairunnasri membedah isi Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 133-134 mengenai karakter orang-orang yang bertakwa, salah satunya adalah kelompok Al-‘Afina ‘Aninnas atau orang-orang yang memaafkan kesalahan sesama manusia.
Dikisahkan teladan luar biasa dari seorang sahabat Nabi bernama Abu Damdam. Di tengah majelis yang dihadiri oleh sahabat kaya raya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, Abu Damdam yang dikenal sangat miskin menyatakan bentuk sedekah unik yang tidak mampu dilampaui oleh siapapun.
"Abu Damdam berkata kepada Rasulullah, 'Ya Rasul, saya bersedekah dengan memaafkan seluruh kesalahan orang yang telah berbuat zalim kepada saya kemarin, hari ini, dan esok. Saya tidak akan menuntut mereka di akhirat kelak,'" jelas Ustadz Khairunnasri mengisahkan riwayat tersebut.
Ketulusan Abu Damdam membuat sahabat-sahabat besar lainnya tertunduk karena merasa berat untuk menandingi kemuliaan hati tersebut. Ustadz menekankan bahwa memaafkan adalah salah satu pintu surga yang hanya bisa digapai oleh mereka yang mampu berdamai dengan diri sendiri.
Ustadz Khairunnasri juga menyinggung fenomena media sosial saat ini, di mana banyak orang menggunakan prinsip “memaafkan tapi tidak melupakan” atau forgive but not forget. Menurutnya, sikap ini justru bisa membuat seseorang menjadi pendendam dan tersandera oleh cara berpikir yang sempit.
“Memaafkan sesungguhnya adalah upaya untuk berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan waktu. Ini adalah puncak kebaikan ibadah, meski praktiknya tidaklah mudah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa memaafkan membutuhkan kekuatan mental, emosional, dan ilmu. Sikap ini sangat relevan dalam berbagai lini kehidupan, baik hubungan antara anak dan orang tua, maupun antara atasan dan bawahan.
Sebagai penutup, Ustadz mendoakan agar umat Muslim diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk menjadi pribadi yang pemaaf, sehingga jalan ketakwaan dapat terbuka lebar bagi siapa saja yang mengamalkannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....