Kemarau 2026 Lebih Cepat, Polusi Udara Mengancam
- 15 Mar 2026 22:08 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau tahun 2026 datang lebih awal di banyak wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkirakan mulai bergerak dari kawasan Nusa Tenggara, lalu meluas ke berbagai daerah lain pada April hingga Juni. Selain datang lebih cepat, musim kering tahun ini juga diproyeksikan lebih gersang dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
BMKG mencatat sebagian besar wilayah akan mengalami sifat musim kemarau bawah normal atau lebih kering dibanding kondisi umum. Situasi itu muncul setelah fenomena La Nina dinyatakan berakhir pada Februari 2026, sehingga curah hujan yang sebelumnya cukup tinggi diperkirakan berangsur menurun. Dengan berkurangnya hujan, ancaman kekeringan dan penurunan kualitas lingkungan pun perlu diwaspadai sejak dini.
Kondisi kemarau yang panjang dinilai menjadi faktor yang dapat memperparah polusi udara, terutama di kota-kota besar. Saat hujan jarang turun, partikel debu dan polutan halus seperti PM2.5 tidak mudah tersapu dari atmosfer. Akibatnya, udara cenderung lebih kotor, terasa berat, dan berpotensi meningkatkan gangguan kesehatan pada masyarakat yang terpapar setiap hari.
Pengamat kualitas udara menyebut musim kemarau kerap membuat indeks pencemaran melonjak tajam. Di Jakarta, misalnya, tingkat polusi pada musim kering disebut dapat meningkat jauh lebih tinggi dibanding periode hujan. Dalam situasi tertentu, kualitas udara bahkan bisa masuk kategori sangat tidak sehat, yang berisiko memicu infeksi saluran pernapasan, memperberat penyakit paru, hingga meningkatkan ancaman gangguan jantung.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak hanya mewaspadai cuaca panas, tetapi juga dampak ikutannya terhadap kesehatan. Upaya sederhana seperti membatasi aktivitas luar ruang saat udara memburuk, menggunakan masker ketika diperlukan, menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, dan rutin memantau informasi kualitas udara bisa menjadi langkah pencegahan yang penting selama periode kemarau.
BMKG juga menekankan bahwa prediksi ini perlu menjadi dasar antisipasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat. Selain menghadapi potensi kekeringan, kesiapsiagaan terhadap polusi udara harus diperkuat agar risiko kesehatan saat kemarau 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin. Pemantauan kualitas udara secara konsisten dinilai penting untuk membantu langkah penanganan yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....