Esensi Taubat Nasuha: Pentingnya Penyesalan dan Perbaikan Diri
- 09 Mar 2026 22:20 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Taubat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang menyadari kesalahan dan ingin kembali ke jalan yang benar. Hal tersebut disampaikan Ustadz Taufikurrahmi kepada RRI, pada Senin 9 Maret 2026, dalam pembahasan mengenai esensi Taubat Nasuha.
Menurutnya, setiap manusia tidak luput dari khilaf dan dosa, baik yang kecil maupun yang besar. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk segera bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
“Banyak orang sering mendengar istilah Taubat Nasuha, tetapi belum tentu memahami esensi sebenarnya dari taubat tersebut,” ujar Ustadz Taufikurrahmi.
Ia menjelaskan, kewajiban bertaubat ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah At-Tahrim Ayat 8 yang menyeru orang-orang beriman untuk bertaubat dengan taubatan nasuha, yaitu taubat yang dilakukan dengan kesungguhan hati.
Dalam penjelasannya, merujuk pandangan para ulama seperti Imam As-Suyuthi dan Imam Al-Khazin mengenai syarat-syarat agar taubat seseorang diterima oleh Allah SWT.
Pertama, seseorang harus berhenti dari perbuatan maksiat (Al-Iqla’). Taubat tidak dianggap sah apabila seseorang masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut.
Kedua, menyesali kesalahan yang telah dilakukan (An-Nadam). Penyesalan yang tulus menjadi inti dari taubat yang benar.
Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa yang sama di masa mendatang.
Keempat, apabila kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, maka seseorang wajib mengembalikan hak tersebut serta meminta maaf secara langsung kepada pihak yang dirugikan. Dalam ajaran Islam, hal ini dikenal dengan istilah raddul madhalim.
Ustadz Taufikurrahmi mengingatkan agar taubat tidak dijadikan sekadar formalitas tanpa perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir, ia memotivasi agar tidak putus asa dari rahmat Allah SWT. Ia mencontohkan kisah inspiratif dalam sejarah umat terdahulu, termasuk kisah seorang pembunuh yang akhirnya diampuni Allah karena kesungguhan taubatnya.
“Taubat tidak perlu dipublikasikan kepada banyak orang. Yang terpenting adalah kesungguhan hati untuk memenuhi syarat-syaratnya. Insya Allah, Allah akan menerima taubat hamba-Nya yang benar-benar ingin kembali ke jalan yang benar,” pungkasnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....