Makna Shalat di Sisi Allah SWT.
- 04 Feb 2026 10:46 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Shalat bukan sekadar kewajiban rutinitas, melainkan sebuah interaksi langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Tgk. H. Bukhary Kaoy dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Lhokseumawe pada Rabu, 4 Februari 2026. Dalam tausiah bertajuk “Shalat yang Diterima oleh Allah SWT”, Ustadz Bukhary menekankan pentingnya memperbaiki kualitas shalat, karena ibadah ini merupakan amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat.
“Apabila baik shalatmu, maka baiklah seluruh amalmu yang lain. Namun, jika shalatmu rusak atau tidak benar, maka rusaklah seluruh amalmu yang lain,” tegasnya mengutip hadis Rasulullah SAW.
Merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 43, Ustadz Bukhary menjelaskan bahwa perintah “dirikanlah shalat” tidak hanya sebatas gerakan fisik rukuk dan sujud. Menurutnya, terdapat empat elemen penting agar shalat seseorang memiliki makna di sisi Allah SWT.
Pertama, takbir dengan ihsan, yakni melaksanakan takbiratul ihram dengan perasaan seolah-olah berhadapan langsung dengan Allah SWT. Jika belum mampu, maka hadirkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat setiap gerak dan niat hamba-Nya.
Kedua, membaca dengan tafakur, yaitu membaca setiap doa dan ayat dalam shalat dengan penuh perenungan dan penghayatan, bukan sekadar lisan yang bergerak tanpa kehadiran hati.
Ketiga, rukuk dan sujud yang sempurna sebagai wujud kerendahan diri sepenuhnya di hadapan Allah SWT. Keempat, salam dengan rasa takut (khauf), yakni menutup shalat dengan perasaan harap dan cemas apakah shalat yang telah dilaksanakan diterima atau justru ditolak karena kelalaian.
Selain itu, Ustadz Bukhary juga mengingatkan pesan Allah dalam Surah Thaha bahwa shalat didirikan untuk mengingat Allah. Ia menyayangkan masih banyak umat yang melaksanakan shalat, namun pikirannya melayang ke berbagai urusan dunia sejak takbir hingga salam.
“Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lalai dalam shalat. Shalat yang benar seharusnya mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar,” tambahnya.
Sebagai penutup, Ustadz Bukhary mengajak untuk terus berupaya memperbaiki kualitas shalat, agar ibadah tersebut tidak hanya menjadi penggugur kewajiban, tetapi benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....