Retorika "Batas Kekuasaan" AHY dalam Tinjauan Komunikasi Politik

  • 10 Sep 2026 06:58 WIB
  •  Lhokseumawe

Oleh: Fohan Muzakir, M.Sos

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)

Pidato politik Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pada perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat mendadak menjadi episentrum perbincangan politik nasional.

Kalimat AHY yang mengingatkan bahwa "kekuasaan ada batas waktunya" bertiup kencang ke luar dinding forum internal partai dan langsung memicu riak di lingkar kekuasaan. Mengapa sebuah pidato yang diklaim sebagai konsumsi internal kader mampu membuat suasana di sekitar Istana mendadak gerah?

Perspektif Dramaturgi

Dalam studi komunikasi politik, fenomena ini dapat dibedah melalui teori Dramaturgi dari Erving Goffman. AHY sejatinya sedang bermain di panggung belakang (backstage) sebuah ruang domestik partai tempat para kader seharusnya bebas melakukan evaluasi dan membakar semangat internal.

Namun, ketika teks pidato tersebut bocor ke ruang publik, terjadilah pergeseran ke panggung depan (frontstage). Di panggung terbuka ini, setiap kata tidak lagi dinilai sebagai motivasi internal, melainkan didekodasi oleh khalayak luas sebagai sebuah pernyataan sikap politik resmi.

Proses Dekodasi dan Pesan Implisit

Secara tekstual, pernyataan AHY mengenai pembatasan kekuasaan dan pentingnya transisi yang damai dengan mengambil contoh era 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah diskursus demokrasi yang normatif. Namun, dalam kajian Semiotika, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari tanda dan makna.

Publik dan media dengan cepat melakukan proses dekodasi (decoding) yang kritis. Arah telunjuk AHY dibaca secara implisit mengarah pada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang belakangan ini kerap diterpa isu miring terkait upaya pelanggengan pengaruh politik keluarganya.

Dinamika Komunikasi Kelompok dalam Koalisi Pemerintahan

Ketidaknyamanan Istana dan partai koalisi menunjukkan adanya kegagalan pengelolaan Komunikasi Kelompok (Group Communication) di tingkat elite pemerintahan Prabowo-Gibran. Demokrat hari ini adalah bagian dari koalisi gemuk pemerintah.

Ketika salah satu anggota kelompok mulai melempar stimulus berupa kritik terhadap netralitas aparat dan kondisi ekonomi kelas bawah, anggota kelompok lain (seperti Golkar dan Gerindra) secara psikologis akan langsung melakukan respons defensif. Pesan AHY tidak lagi dibaca sebagai refleksi, melainkan ancaman ego sektoral atau bahkan sinyal curi start menuju Pilpres 2029.

Impression Management sebagai Penutup Krisis

Langkah cepat AHY yang melakukan klarifikasi langsung di depan Presiden Prabowo Subianto pada puncak acara di Indonesia Arena adalah bentuk manajemen kesan (impression management) untuk meredam krisis.

AHY sadar, bola liar komunikasi ini harus segera dihentikan agar tidak merusak harmoni hubungan kekuasaan.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi seorang aktor politik kelas kakap, tidak ada pesan yang benar-benar privat. Seketat apa pun kontrak politik diikat, sebuah pesan akan selalu menemukan celah tafsirnya sendiri begitu ia menyentuh ranah publik.

Penulis: Fohan Muzakir, M.Sos

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)

Email: fohanm@gmail.com

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....