Kemarau Panjang, Risiko Kebakaran dan Krisis Air Bersih Meningkat di Kepulauan Aru

  • 04 Sep 2026 18:46 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Dobo – Dampak kemarau panjang terhadap meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan serta keterbatasan ketersediaan air bersih di Kabupaten Kepulauan Aru perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kepulauan Aru, Fedrik Hendrik, S.Sos., kepada RRI di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026), mengatakan kondisi kemarau panjang membuat potensi kebakaran lahan dan hutan semakin tinggi.

Menurutnya, berdasarkan informasi cuaca dari BMKG, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal Januari 2027.

Situasi tersebut perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan kerawanan kebakaran sekaligus berdampak terhadap ketersediaan air.

“Dampak kemarau panjang terhadap kebakaran lahan dan hutan sangat tinggi. Dalam satu periode saja, dari tanggal 9 sampai 28, tercatat 29 kali kejadian kebakaran lahan,” kata Fedrik.

Ia menjelaskan, keterbatasan sumber air juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman. Sejumlah sumur yang biasanya menjadi sumber air mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan menjalin kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki mobil tangki air. Bantuan tersebut sangat membantu petugas karena suplai air dapat langsung diarahkan ke lokasi kebakaran tanpa harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh.

Fedrik mengatakan, kondisi peralatan pemadam kebakaran di Kabupaten Kepulauan Aru juga masih sangat terbatas. Sebagian besar peralatan yang digunakan saat ini merupakan pengadaan tahun 2017 dan hingga kini belum mendapatkan pembaruan secara menyeluruh.

“Kami sangat minim peralatan. Peralatan yang ada itu pengadaan tahun 2017 sampai sekarang belum ada pengadaan lagi,” ujarnya.

Ia berharap Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten Kepulauan Aru dapat memberikan dukungan terhadap kebutuhan peralatan pemadam kebakaran, termasuk kendaraan pemadam, perlengkapan keselamatan atau alat pelindung diri (APD), serta sarana pendukung lainnya.

Menurutnya, keberadaan armada tambahan sangat penting karena lokasi kebakaran tidak hanya berada di satu titik. Dengan dua unit kendaraan pemadam, petugas dapat bergantian menangani beberapa lokasi kebakaran sehingga respons terhadap kejadian dapat dilakukan lebih cepat.

“Kalau armada kita ada dua, tidak jadi masalah karena bisa saling bergantian. Kita berharap Pemerintah Daerah mendukung sepenuhnya peralatan pemadam kebakaran,” katanya.

Selain keterbatasan armada, keselamatan petugas juga menjadi perhatian. Fedrik menyebutkan APD bagi personel yang bertugas memadamkan kebakaran masih terbatas, padahal pekerjaan tersebut memiliki risiko tinggi.

Ia menambahkan, sejumlah lokasi di Dobo dinilai rawan terjadi kebakaran lahan, terutama kawasan sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan beberapa titik lainnya. Kebakaran umumnya terjadi akibat aktivitas masyarakat membuka lahan untuk pertanian tanpa memperhatikan pengendalian api.

“Ini bukan hanya karena disengaja, tetapi ada juga kelalaian masyarakat saat membuka lahan untuk pertanian. Api harus dijaga supaya tidak menyebar ke mana-mana,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan adanya kejadian kebakaran yang diduga sengaja dilakukan masyarakat. Petugas bahkan harus kembali ke lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan karena api kembali muncul di tempat yang sama.

Untuk mendukung penanganan kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran juga telah mendapat bantuan dari unsur TNI melalui Batalyon yang memiliki dua fasilitas pemadam kebakaran. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu dalam memperkuat respons terhadap kejadian kebakaran lahan dan hutan.

Selain risiko kebakaran, kemarau panjang juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Dinas Pemadam Kebakaran turut membantu penyaluran air bersih melalui kerja sama dengan Perusahaan Air Minum (PAM).

Fedrik mengatakan, armada pemadam kebakaran dimanfaatkan untuk membantu mendistribusikan air ke sejumlah titik yang sulit dijangkau jaringan air.

Dalam satu kali penyaluran, air yang didistribusikan mencapai sekitar 4.000 liter. Penyaluran dilakukan dua kali dalam sehari berdasarkan titik yang telah ditentukan.

“Kurang lebih 4.000 liter air disalurkan ke titik-titik yang memang tidak bisa dijangkau. Prinsipnya, dengan kemarau panjang ini kita saling membantu supaya masyarakat bisa memenuhi kebutuhan air mereka,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah wilayah, termasuk kawasan Sewalima Pantai, yang membutuhkan dukungan suplai air bersih.

Fedrik berharap Pemerintah Daerah dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang dengan menambah armada pemadam kebakaran, kendaraan pengangkut air, peralatan keselamatan petugas, serta sarana transportasi yang mampu menjangkau wilayah-wilayah rawan kebakaran.

Menurutnya, bencana kebakaran tidak dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi. Karena itu, kesiapan personel, peralatan, armada, dan ketersediaan air harus menjadi perhatian bersama.

“Kami meminta Pemerintah Daerah memperhatikan kondisi ini karena bencana kebakaran kita tidak tahu kapan terjadi. Dukungan peralatan sangat penting untuk keselamatan petugas maupun masyarakat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....