Siswa SD Meninggal Saat Mengikuti Kegiatan Pramuka

  • 13 Des 2025 20:01 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Pringsewu: Kisah duka seorang ibu di Kabupaten Pringsewu, Lampung, viral di media sosial setelah putri semata wayangnya meninggal dunia 28 jam usai mengalami kecelakaan saat kegiatan Pramuka. Korban diketahui bernama Aisyah Aqila Fazila Yusyah atau akrab disapa Zhee (12), siswi kelas VI di salah satu sekolah dasar di Pringsewu. Zhee meninggal dunia pada 23 November 2025, sehari setelah mengalami insiden saat mengikuti kegiatan Pramuka di luar kelas.

Ibu kandung korban, Nia, menuturkan bahwa pada 22 November 2025, putrinya mengikuti kegiatan mencari tumbuhan herbal saat jam kosong pelajaran. Kegiatan tersebut dipandu oleh guru pembina Pramuka. Setiap kelompok terdiri dari delapan hingga sembilan siswa dan diarahkan berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah menuju sebuah bukit.

Nia mengungkapkan, sejak awal ia telah meminta pihak sekolah agar Zhee tidak dilibatkan dalam kegiatan fisik berat, termasuk Pramuka. Permintaan itu didasari riwayat kesehatan sang anak yang pernah mengalami radang otak saat kecil.

“Saya ada alasan tersendiri kenapa anak saya tidak boleh ikut Pramuka,” ujar Nia, Jumat (12/12/2025).

“Zhee juga anak yang jarang keluar rumah, apalagi ke alam,” katanya.

Insiden terjadi saat Zhee dan seorang temannya berada di puncak bukit. Keduanya diduga tergelincir dari tebing. Zhee jatuh dan menghantam pondasi batu bata di bawah tebing. Warga sekitar lokasi sempat memberikan pertolongan pertama. Menurut Nia, saat itu putrinya masih bisa berdiri meski mengalami benturan cukup keras.

“Zhee masih bisa berdiri. Rok Pramukanya kotor sampai dicuci warga. Ikat pinggangnya penyok sampai harus dibuka pakai obeng,” tuturnya.

Teman-teman korban disebut berusaha mencari guru pendamping. Namun, berdasarkan penuturan para siswa, guru tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Korban kemudian dibawa ke sebuah klinik. Saat itu, Nia tengah berada di Surabaya dan baru mengetahui kondisi anaknya setelah menghubungi pihak keluarga yang mendampingi Zhee di klinik.

Ia mendapat informasi awal bahwa putrinya hanya mengalami masuk angin dan kelelahan akibat tidak sarapan. Keterangan tersebut justru membuat Nia curiga. Ia kemudian berinisiatif menggali informasi langsung dari teman-teman satu tim Zhee.

“Saya di Surabaya, tapi yang ngebongkar semuanya justru saya. Karena saya dekat sama teman-temannya anak saya itu yang satu tim. Saya cari nomor HP-nya, saya cari informasi, apa sih kejadian yang sebenarnya? Ternyata jatuh dari tebing,” katanya.

Nia mengaku sempat kesulitan meyakinkan keluarga di rumah mengenai kondisi sebenarnya.

“Karena guru itu kalau di mata masyarakat kecil ini guru maha benar. Sedangkan guru itu yang nganterin anak saya ke klinik. Dia bilang ke mamiku, ‘Zhee cuma kepleset biasa, karena nggak sarapan, masuk angin.’ Enteng banget kan? Kebohongan mereka itu luar biasa,” ujarnya.

Menjelang sore hari, Nia berhasil mengumpulkan keterangan dari sejumlah teman korban dan memastikan bahwa putrinya mengalami jatuh dari ketinggian, bukan sekadar terpeleset ringan. Namun, saat ia menghubungi kepala sekolah dan wali kelas, keterangan yang disampaikan tetap sama.

“Mereka bilang Zhee baik-baik saja, hanya luka di kaki dan lutut,” kata Nia.

Keesokan harinya, Nia mendatangi klinik tempat Zhee pertama kali diperiksa. Dari rekam medis yang ditunjukkan, dokter mencatat adanya nyeri ulu hati serta dugaan pendarahan otak, dan menyarankan agar korban segera dirujuk untuk menjalani CT scan. Menurut Nia, informasi medis tersebut tidak pernah disampaikan kepadanya oleh pihak sekolah.

Ia juga mengaku mendapat cerita dari teman-teman Zhee bahwa mereka sempat diminta untuk tidak menceritakan secara detail peristiwa jatuhnya korban dari ketinggian. Meski pihak sekolah disebut menyatakan kesanggupan membantu biaya pengobatan, Nia menilai tidak ada keterbukaan informasi sejak awal kejadian.

“Apa yang dokter sampaikan tidak sama dengan yang disampaikan ke saya,” ujarnya.

Dalam unggahan di media sosial yang kemudian viral, Nia menyebut hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan Zhee mengalami trauma pada sejumlah organ dalam, seperti ginjal, kandung kemih, jantung, serta pendarahan otak. Zhee dinyatakan meninggal dunia 28 jam setelah kejadian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....