Sejarah Kembar Mayang , Milik Para Dewa Kahyangan

  • 27 Jun 2024 06:51 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Makna kembar mayang yang menjadi simbol dalam pernikahan adat Jawa berkaitan pada sejarah kembar mayang itu sendiri. Dalam mitos Jawa, kembar mayang bukan hiasan dunia.

Kembar Mayang adalah milik para dewa. Kisahnya diambil dari lakon di dunia wayang, di mana dulu ketika Panakawan akan menikahkan anaknya, sebagai syarat, pengantin wanita minta kembar mayang yang hanya milik para dewa.

Oleh sebab itu, para kesatria Pandawa meminta kepada dewa untuk meminjamkan kembar mayang demi terlaksananya pernikahan anak dari Panakawan. Karena kembar mayang pinjaman dari para dewa, maka benda itu harus dikembalikan.

Setiap orang Jawa yang selesai melakukan hajat pernikahan akan mengembalikan kembar mayang itu kepada dewa di kayangan melalui menaruhnya di perempatan jalan.

Dilansir dari ‘Makna Filosofis Kembar Mayang dalam Kehidupan Masyarakat Jawa’, kembar mayang tertua di lingkungan Kraton Yogyakarta dibuat pada zaman Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yakni pada 1906.

Kembar mayang saat itu berbentuk menyerupai pohon Kalpataru sebagaimana terlihat pada ukiran Candi Prambanan. Menurut tinjauan sejarah, kembar mayang adalah sarana upacara adat peninggalan animisme yang telah bersinkretis dengan Hinduisme berupa media upacara.

Segala peristiwa kehidupan yang menyangkut satu formalitas peresmian dalam masyarakat diperlukan kesaksian (tetenger). Bentuk kembar mayang ini kemudian mengalami perubahan dengan berkembangnya zaman.

Akhir-akhir ini terjadi upaya untuk lepas dari beberapa ketentuan yang sudah menjadi tradisi. Yaitu kembar mayang sebatas menjadi bentuk karya seni yang bebas dan bersifat individual.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....