Sape' : Alat Musik yang Dekat dengan Alam
- 10 Feb 2026 14:50 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Alat musik tradisional Sape’ menjadi salah satu warisan budaya masyarakat Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat dan masih lestari hingga kini. Instrumen petik ini dikenal memiliki keterkaitan erat dengan alam, baik dari bahan pembuatannya maupun dari nuansa bunyi yang dihasilkan. Suara Sape’ yang lembut dan unik kerap digunakan untuk mengiringi berbagai upacara adat serta pertunjukan seni tradisional.
"Sape' itu sangat erat dengan alam. Ada cerita yang pernah aku dengar, katanya bunyi dentingan Sape' itu terinspirasi dari suara burung. Terus kalau kita sadari kebanyakan musik-musik Sape' itu menceritakan tentang aktivitas-aktivitas masyarakat ketika sedang berada di alam tepatnya di hutan. Misalnya, Sape' itu menceritakan tentang masyarakat Dayak yang berburu, terus Sape' juga menceritakan tentang wanita yang menari di alam. Jadi Sape' itu sangat erat kaitanya dengan alam," ujar praktisi seni, Leonardus Gardiaz Vogatn di siaran Ngobras Pro 1 RRI Pontianak pada Jumat, 06 Februari 2026.
Sape’ tidak hanya berfungsi sebagai instrumen seni, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat Dayak yang sarat makna. Melalui alunan nadanya, Sape’ menghadirkan cerita dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Instrumen tradisional ini dinilai sebagai jembatan yang menghubungkan kisah masa lalu dengan harapan dan perjalanan budaya masyarakat Dayak di masa mendatang.
"Sape' ini sebagai identitas budaya masyarakat Dayak, khususnya masyarakat Dayak Kayan pemilik kebudayaan Sape'. Jadi kalau bicara tentang musik tradisi, musik ini menjadi salah satu jembatan untuk kita dari masa lalu ke masa sekarang dan masa depan. Ternyata kalau kita sehari-hari, musik tradisi itu mewariskan memori-memori kolektif, pemikiran intelektual leluhur kita yang diwariskan tapi melalui musik," kata seniman lulusan Etnomuiskologi ISI Yogyakarta yang akrab disapa Vogatn tersebut.
/chh1g3n7d2y1hfa.png)
Vogatn juga mengatakan bahwa Sape’ kerap digunakan untuk menggambarkan aktivitas kehidupan masyarakat Dayak pada masa lalu, seperti tradisi berburu di hutan. Melalui alunan musiknya, kisah tentang cara hidup leluhur tersebut diwariskan kepada generasi sekarang sebagai bagian dari identitas budaya. Selanjutnya, cerita yang sama akan kembali diteruskan kepada generasi berikutnya, sehingga Sape’ berperan sebagai perantara atau jembatan penghubung antarwaktu dalam perjalanan sejarah masyarakat Dayak.
Cara memainkan Sape’ diketahui unik dan berbeda dengan teknik bermain gitar, meskipun sama-sama termasuk alat musik petik. Vogatn mengungkapkan bahwa pada tahap awal diperlukan waktu dan proses belajar yang cukup lama karena perbedaan pola petikan serta susunan nadanya. Dalam praktiknya, permainan Sape’ menggabungkan unsur melodi dan ritmis yang harus dimainkan secara seimbang agar menghasilkan bunyi khas alat musik tradisional tersebut.
"Awalnya dulu juga sempat kesulitan, sempat butuh proses panjang untuk belajar Sape'. Karena memang ternyata Sape' dengan gitar itu berbeda secara teknik. Secara pola permainan berbeda, kalau gitar kita kan biasanya memainkan chord ya, nah kalau Sape' itu terdiri dari melodi dan ritmis. Tapi biasanya kalau pola-pola tradisi kita banyak memainkan melodi-melodi yang biasa sudah menjadi tradisi masyarakat pemilik Sape'-nya," kata Vogatn.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....