Nyadran, Tradisi Jawa Sarana Menjalin Hubungan Sosial Kemasyarakatan
- 06 Feb 2026 19:04 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah adat dan kebudayaannya misalnya tradisi nyadran. Tradisi dan budaya Jawa masih mendominasi tradisi dan budaya nasional Indonesia hingga saat ini.
Nama-nama Jawa sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia, begitu pula jargon dan istilah-istilah Jawa. Seperti doa-doa dengan pengucapan bahasa Arab dan Jawa membuktikan bahwa pencampuran budaya serta alat keagamaan.
Oleh karena itu, sadranan tradisi atau adat Jawa sebagai ritual atau kegiatan budaya. Sadranan mentradisi turun-temurun bermagsud “mengirim doa dan mendoakan leluhur”.
Sadranan dilakukan sebelum bulan Ramadhan dapat menciptakan sebuah aktifitas budaya berdampingan dengan aktivitas keagamaan.
Menurut Agus Warianto, Nyadran atau Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh orang jawa yang dilakukan di bulan Sya’ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa). Bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan atau desa.
Ketua KSBN Jateng ini melanjutkan, Nyadran dimaksudkan sebagai sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia. Mengingatkan diri bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian.
Juga dijadikan sebagai sarana guna melestrikan budaya gotong royong dalam masyarakat sekaligus upaya untuk dapat menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Menjadi tradisi masyarakat pedesaan Jawa melaksanakan ritual kolektif tahunan yang disebut nyadran atau bersih desa (bersihan). Ritual nyadran ini dimaksudkan untuk mendapat keselamatan warga desa dan terbebasnya masyarakat desa dari segala bentuk bencana (nirsambikolo).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....