Saat komentar Jadi senjata Paling Tajam

  • 28 Nov 2025 16:47 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandarlampung: Di era ketika hampir semua obrolan pindah ke layar ponsel, komentar netizen Indonesia sering kali menjadi bahan pembicaraan tersendiri. Bukan hanya karena jumlahnya yang luar biasa aktif, tapi karena ketikan mereka kadang lebih tajam dari silet. Satu kata bisa viral, satu kalimat bisa bikin seseorang trending, dan satu komentar pedas bisa mengguncang mental siapa saja yang membacanya.

Fenomena komentar pedas ini makin terlihat di platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Sekali ada konten yang dianggap “nggak sesuai ekspektasi,” maka kolom komentar langsung berubah seperti arena gladiator: penuh kritik spontan, candaan yang menusuk, hingga body shaming tanpa filter.

Bagi sebagian netizen, menulis komentar hanya sepersekian detik. Tapi bagi penerimanya? Dampaknya bisa berhari-hari.

Ada yang jadi insecure, ada yang berhenti berkarya, bahkan ada yang sampai takut muncul di ruang publik digital. Di balik layar, siapapun bisa berubah jadi “penonton yang paling vokal” sayangnya, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan, tapi sudah menjadi budaya digital yang tanpa sadar kita normalisasi. Kita tertawa membaca komentar pedas, membagikannya karena lucu, tanpa ingat bahwa yang dikomentari adalah manusia yang punya rasa.

Padahal, ruang digital harusnya bisa jadi tempat anak muda berkembang, bukan saling menjatuhkan.

Kita lupa bahwa jejak digital abadi, dan kata-kata yang kita tulis bisa terus membayangi seseorang bahkan setelah kita lupa pernah menuliskannya.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya:

“Kalau aku yang dikomentarin begitu… apa aku kuat?”

Anak muda dikenal kreatif, cerdas, dan punya empati besar. Nah, kemampuan itulah yang seharusnya dibawa juga ke dunia digital. Kita bisa tetap lucu tanpa menghina, tetap kritis tanpa menyakiti, tetap vokal tanpa menjatuhkan.

Bukan berarti tidak boleh berpendapat, boleh, bahkan penting. Tapi marilah mulai membiasakan komentar yang membangun, bukan komentar yang menghancurkan. Karena di balik akun sosial media, tidak ada robot, yang ada adalah manusia, sama seperti kita.

Dan mungkin, internet akan jadi tempat yang jauh lebih nyaman kalau kita mulai dari hal sesederhana:

pikirkan dulu sebelum mengetik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....