Cabe Gendot Jejak Sejarah dari Amazon Kuno
- 23 Sep 2025 09:09 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon : Cabe gendot, atau dikenal juga sebagai habanero, merupakan salah satu jenis cabai dari spesies Capsicum chinense. Jejak sejarahnya panjang, berawal dari daerah Amazon, lalu menyebar ke Meksiko. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa polong cabai chinense ditemukan di Gua Guitarrero, Peru, berusia sekitar 8.500 tahun. Seiring waktu, cabai ini didomestikasi oleh petani yang melakukan seleksi untuk menghasilkan cabai berukuran lebih besar dan lebih pedas. Pada sekitar tahun 1000 SM, jenis ini sudah menyebar ke seluruh wilayah Amerika Selatan dan Tengah.
Peran penting Christopher Columbus pada 1492 turut membawa cabai ini ke Eropa. Dari Kepulauan Karibia, berbagai jenis cabai termasuk habanero diperkenalkan ke Portugis, lalu meluas ke Afrika dan dunia. Nama habanero sendiri diyakini berasal dari kota Havana, Kuba, yang pada masa lalu menjadi pusat perdagangan cabai ini.
Cabe gendot sejenis dengan Scotch bonnet pepper yang sama-sama memiliki tingkat kepedasan tinggi, meskipun bentuk polongnya berbeda. Habanero paling banyak tumbuh di Semenanjung Yukatan, Meksiko, tetapi juga dibudidayakan di daerah panas lain seperti Belize, Kosta Rika, Panama, hingga Amerika Serikat.
Menariknya, pada abad ke-18 para taksonomis sempat mengira cabai ini berasal dari Cina. Karena itu, ia digolongkan dalam spesies Capsicum chinense atau “cabe cina.” Padahal, cabai ini asli dari benua Amerika.
Di Indonesia, cabe gendot dikenal dengan tingkat kepedasan ekstrem, berkisar antara 100.000 hingga 350.000 skala Scoville. Bentuknya mengembung dengan aroma khas yang sedikit manis dan fruity, mirip paprika. Biasanya, cabai ini digunakan untuk menambah sensasi pedas dalam berbagai masakan Nusantara seperti sambal, tumisan, hingga gulai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....