Kecanduan Gawai Kurangi Minat Baca Tulis Siswa

  • 04 Jul 2025 22:47 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung: Kemudahan akses teknologi di era digital memang membawa banyak manfaat, termasuk dalam dunia pendidikan. Namun, di balik kemajuan itu, muncul kekhawatiran baru yaitu meningkatnya kecanduan gawai di kalangan pelajar yang berdampak langsung pada menurunnya minat baca dan kemampuan menulis mereka.

Fenomena ini semakin terasa pasca-pandemi, saat penggunaan gawai meningkat tajam untuk keperluan belajar daring. Kini, ketika pembelajaran tatap muka kembali normal, banyak guru mengeluhkan turunnya kemampuan literasi dasar siswa.

“Anak-anak sekarang lebih tertarik scroll media sosial daripada membaca buku pelajaran. Mereka juga cenderung kesulitan menyusun kalimat atau menulis dengan struktur yang benar,” ujar Sri Wulandari, guru Bahasa Indonesia di salah satu SMP negeri di Bandar Lampung.

Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2024 menunjukkan bahwa minat baca siswa Indonesia mengalami penurunan sebesar 18% dibandingkan tahun 2021. Tak hanya itu, kemampuan menulis narasi panjang juga melemah, terutama di jenjang SD dan SMP.

Psikolog pendidikan, Dr. Yoga Prasetya, M.Psi, menyebut bahwa penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penurunan fokus, kurangnya kemampuan berpikir kritis, dan kecenderungan instan dalam menerima informasi.

“Anak-anak menjadi lebih visual dan cepat bosan membaca teks panjang. Mereka terbiasa dengan konten singkat dan hiburan cepat. Ini sangat mengganggu proses pengembangan literasi mereka,” ujarnya.

Para ahli sepakat bahwa pengawasan dan bimbingan dari orang tua serta guru sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini. Berikut beberapa solusi yang disarankan:

1. Batasi Waktu Layar (Screen Time): Anak sebaiknya tidak menggunakan gawai lebih dari 2 jam per hari untuk hiburan.

2. Dorong Budaya Membaca di Rumah: Orang tua bisa memberi contoh dengan membaca buku dan mendampingi anak saat membaca.

3. Gunakan Gawai untuk Aktivitas Edukatif: Arahkan penggunaan gadget untuk kegiatan yang mendukung belajar, seperti membaca e-book, menulis jurnal digital, atau belajar bahasa.

4. Aktifkan Kegiatan Menulis Kreatif: Guru bisa mengadakan lomba menulis cerita, membuat buku kelas, atau kegiatan menulis tangan agar siswa tetap terbiasa menulis secara manual.

Pendidikan berbasis teknologi memang tidak bisa dihindari, namun harus diimbangi dengan literasi yang kuat. “Kalau tidak diawasi, kita akan melahirkan generasi yang pintar bermain gadget, tapi miskin kosakata dan kemampuan ekspresi tertulis,” kata Dr. Yoga memperingatkan.

Maka dari itu, sudah saatnya semua pihak — sekolah, keluarga, dan masyarakat — bersama-sama membangun kembali budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak dan remaja.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....