Filosofi serta Keunikan Tradisi Grebeg Syawal di Surakarta

  • 18 Apr 2025 22:23 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Grebeg Syawal adalah sebuah tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Kota Surakarta pada bulan Syawal. Tradisi ini dilaksanakan setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Grebeg Syawal diadakan sebagai bentuk syukur atas berkah yang diberikan oleh Allah SWT. Selain itu juga sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar warga.

Pada acara Grebeg Syawal, masyarakat Surakarta biasanya berkumpul di alun-alun utama kota, yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Kidul. Acara dimulai dengan tampilan kesenian tradisional, seperti gamelan, tari-tarian, dan barongsai.

Setelah itu, dilakukan prosesi persembahyangan dan pengambilan air suci dari Keraton Surakarta, yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan. Grebeg Syawal juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pasar malam, pameran kerajinan tangan, serta berbagai atraksi kesenian dan budaya lainnya.

Acara ini dianggap sangat penting bagi masyarakat Surakarta. Karena selain sebagai wijud syukur, ajang silaturahmi dan kebersamaan, juga menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke kota tersebut.

Tradisi grebeg syawalan atau yang disebut juga dengan hajad dalem gunungan pareden digelar usai hari raya Idul Fitri. Menjadi salah satu kegiatan penting bagi Keraton Kasunanan Surakarta, sebagai keraton yang memiliki kaitan erat dengan islam dan perkembangan islam di tanah Jawa.

Prosesi grebeg syawalan diawali dengan arak arakan prajurit kraton, kemudian disusul sepasang gunungan jaler dan wadon, serta penabuh gamelan dan abdi dalem. Mereka berjalan dari sitihinggil Keraton Surakarta menuju masjid Agung Surakarta.

Sepasang gunungan yang berada di atas tandu, dibawa oleh sejumlah abdi dalem keraton. Dua buah gunungan jaler dan wadon (pria dan wanita), dimana gunungan pria dibuat dari hasil bumi yang terdiri dari berbagai jenis sayur mayur, buah-buahan serta telur asin.

Sesampainya di halaman Masjid Agung Surakarta, sepasang gunungan diletakkan dan didoakan. Suasana yang semula khusyuk pun berubah riuh, saat warga berebut gunungan jaler atau gunungan pria yang terdiri dari berbagai jenis sayur sayuran dan telur asin.

Sejumlah warga meyakini, dengan membawa pulang hasil rebutan gunungan, akan mendapatkan rejeki yang berlimpah dan selalu diberi kesehatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....