Mencermati Pepatah Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe

  • 13 Mar 2025 21:22 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Pepatah Jawa yang satu ini mengajarkan orang Jawa tentang bekerja dengan tulus "Sepi ing pamrih, rame ing gawe."

Artinya, sepi atau jauh dari pamrih berlebihan, semangat dalam bekerja dibulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan. Makna tersirat dari ungkapan sepi ing pamrih adalah bahwa ketika kita melakukan sesuatu hendaklah didasari oleh ketulusan niat, keikhlasan hati.

Bukan karena ada pamrih atau keinginan mendapatkan balasan atau pujian dari orang lain.

Adapun kalimat rame ing gawe, maknanya adalah terus melakukan amal saleh dengan penuh semangat. Kapan pun dan di mana pun, tidak terpengaruh dengan komentar orang lain.

Agus Warianto, seorang budayawan, mengatakan bahwa pepatah tersebut mengajarkan orang Jawa agar bekerja dengan giat tanpa pamrih yang berlebihan. Pamrih berlebihan dapat mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan cita-citanya.

‘’Kita kutip catatan dari Syekh Abu Thalib al-Makki. “Inti amal dan penentu diterima-tidaknya suatu amal di sisi Allah adalah ketulusan niat pelakunya atau sering disebut dengan ikhlas. Amal tanpa ikhlas bagaikan kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturunan, dan benih yang tidak tumbuh.” (Syekh Abu Thalib al-Makki)

‘’Meski berbekal ilmu yang tinggi, ditambah amal yang hebat, bisa saja hilang tak berbekas, jika tidak dihiasi dengan sikap ikhlas. Seluruh aktivitas hidup kita yang diorientasikan untuk ibadah kepada Allah SWT, hanya akan bermakna dan bernilai di hadapan-Nya, jika disertai ketulusan hati dan keikhlasan jiwa,’’ tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bambang Supriyono yang juga seorang budayawan menambahkan bahwa ikhlas dalam pengertiannya yang umum adalah melakukan segala aktivitas (amal) ibadah tanpa pamrih. ‘’Tidak berharap apa-apa selain ridla Allah. Konsentrasi ibadahnya hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak yang lainnya.

Parameternya adalah ketulusan niat dari sebelum, selama, dan sesudah kita beramal. Konsistensi ketulusan niat harus melingkupi ketiga aspek ini, tidak hanya salah satunya.

Orang-orang yang ikhlas menghayati betul makna ayat-ayat yang menerangkan balasan atau pahala orang-orang yang berbuat baik. Mereka haqqul yaqin, bahwa Allah pasti melihat dan membalas amalnya, meski orang lain tidak ada yang tahu, atau tidak mau tahu dengan apa yang dikerjakannya,’’ pungkasnya.

Mereka memahami betul makna ayat dalam Q.S. Asy-Syura: 20, “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat”.

Bagi orang-orang yang memegang teguh prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe ini akan selalu mendasari amalnya karena Allah (lillahi ta’ala). Mereka tak peduli dipuji atau dicaci, dipuja atau dicerca.

Bagi mereka yang terpenting adalah mengabdi sepenuh hati kepada Ilahi dan berbuat yang terbaik untuk sesama. Kedua tokoh budaya Jawa ini menuturkannya saat hadir dalam acara Ndoro Wedono Pro 4 RRI Semarang, Kamis (13/03/2025).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....