Nyadran, Tradisi Jawa Sarat Nilai Religi Sosial Budaya
- 16 Feb 2025 18:44 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih lekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha” yang artinya keyakinan.
Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal. Seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya.
Nyadran dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi Nyadran berdasarkan sejarahnya merupakan suatu akulturasi budaya jawa dengan islam.
Nyadran atau Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh orang jawa yang dilakukan di bulan Sya’ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa). Diniatkan sebagai ucapan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan atau desa.
Nyadran dimaksudkan sebagai sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia serta mengingatkan diri bahwa semua manusia akan mengalami kematian. Serta sebagai sarana guna melestrikan budaya gotong royong dalam masyarakat.
Selain itu juga sebagai upaya untuk dapat menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Tradisi Nyadran terdiri dari berbagai kegiatan, yakni :
1. Melakukan besik
Besik adalah pembersihan makam leluhur dari segala kotoran termasuk rerumputan. Dalam Kegiatan ini masyarakat dan antar keluarga saling bekerjasama gotong-royong untuk membersihkan makam leluhur.
2. Kirab
Kirab merupakan arak-arakan peserta nyadran menuju ketempat upacara adat dilangsungkan.
3.Ujub
Ujub adalah menyampaikan niat atau maksud dari serangkaian upacara adat Nyadran oleh Pemangku Adat.
4. Doa
Pemangku Adat memimpin kegiatan doa bersama yang ditujukan kepada roh leluhur yang sudah meninggal.
5. Kembul Bujono dan Tasyukuran
Setelah dilakukan do’a bersama lalu dilanjutkan dengan makan bersama. Untuk menggelar kembul bujono, setiap keluarga mengikuti kenduri dengan membawa makanan sendiri.
Makanan yang dibawa berupa makanan tradisional, seperti ingkung ayam, sambal goreng ati, urap sayur, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya. Setelah masyarakat berkumpul dan membawa kendurinya masing-masing, kemudian makanan yang dibawa diletakkan didepan peserta.
Kemudian didoakan oleh pemuka agama setempat untuk mendapatkan berkah dan lalu tukar menukar makanan diantara peserta kenduri. Untuk mengakhiri acara, kemudian masyarakat melakukan makan berasama dengan saling bersendau gurau untuk saling mengakrabkan diri.
Tata cara pelaksanaan tradisi nyadran tidak hanya sekedar ziarah ke makam leluhur. Tetapi juga terdapat nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar masyarakat di suatu lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....