Tradisi Tahrim yang Mengakar di Masjid-Masjid Indonesia

  • 12 Feb 2025 05:54 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Di berbagai masjid dan mushola di Indonesia, khususnya di Makassar, sebelum azan Subuh sering dikumandangakn lantunan shalawat yang lembut dan menyentuh hati. Tradisi ini dikenal dengan Tarhim, sebuah bentuk dzikir dan shalawat yang bertujuan membangunkan kaum Muslimin untuk tahajjud, sahur, dan persiapan shalat Subuh.

Suara yang khas ini bukan sekadar panggilan untuk bangun dan bersiap menunaikan shalat Subuh, tetapi juga sebuah warisan tradisi yang telah melekat dalam kehidupan umat Islam. Namun, tahukah kita bahwa Tarhim yang sering kita dengar ini memiliki sejarah yang panjang dan akar budaya yang kuat?

Mengutip laman Risalahislam.com,Shalawat Tarhim yang kita kenal sekarang diciptakan oleh Syeikh Mahmud Khalil Al-Husshari (1917-1980), seorang qori’ legendaris asal Mesir yang merupakan lulusan Universitas Al-Azhar. Beliau dikenal sebagai seorang ahli qira’ah dan tartil yang memiliki pemahaman mendalam tentang bacaan Al-Qur'an, baik dari segi linguistik maupun pelafalan. Karena keilmuannya yang tinggi, ia dijuluki sebagai Sheikh al-Maqari’ (guru para ahli qira’ah).

Pada akhir tahun 1960-an, Syeikh Mahmud Al-Husshari berkunjung ke Indonesia dan diminta untuk merekam Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo. Rekaman tersebut kemudian disiarkan secara luas, termasuk oleh Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat) Surabaya, yang akhirnya membuat Tarhim semakin populer di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, lantunan Tarhim yang kita dengar di masjid-masjid di Indonesia tidak lagi menggunakan suara asli Syeikh Mahmud Al-Husshari, melainkan telah dilantunkan ulang oleh Syeikh Abdul Aziz, yang juga berasal dari Mesir. Kini, Shalawat Tarhim telah menjadi bagian dari identitas budaya Islam di Indonesia, terutama di wilayah Sulawesi Selatan, di mana masyarakatnya memiliki ikatan yang kuat dengan tradisi keagamaan.

Makna dan Tujuan Tarhim

Tarhim bukan hanya sekadar lantunan shalawat atau dzikir sebelum waktu sholat tiba. Di baliknya, ada tujuan yang sangat mulia, yaitu:

  1. Membangunkan Kaum Muslimin, Lantunan shalawat yang mengalun menjelang Subuh menjadi pengingat bagi kaum Muslimin agar bangun dari tidurnya, baik untuk melaksanakan shalat tahajjud, sahur, maupun bersiap menunaikan shalat Subuh.
  2. Menyebarkan Dakwah dengan Lembut, Tarhim yang diiringi dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, dzikir, dan shalawat, menjadi sarana dakwah yang penuh kelembutan dan kesejukan.
  3. Memperkuat Tradisi Islam di Indonesia, Tarhim menjadi bagian dari identitas keislaman yang diwariskan turun-temurun.
  4. Menghadirkan Keberkahan, Sebagaimana disebutkan dalam hadits, sahur dan tahajjud membawa keberkahan bagi umat Islam. Oleh karena itu, seruan Tarhim menjadi pengingat akan sunnah yang penuh manfaat ini.

Di Makassar, Tarhim bukan sekadar lantunan shalawat, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Sejak dini hari Hingga malam hari, sebelum waktu sholat 5 waktu tiba, Tarhim berkumandang dari masjid-masjid besar sampai masjid kecil seperti Masjid Al-Markaz Al-Islami dan Masjid Raya Makassar, serta masjid masjid lainnya, mengingatkan umat Islam akan waktu ibadah yang semakin dekat. Namun, dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana menjaga eksistensi Tarhim agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda. Beberapa masjid di Makassar telah mulai menggunakan media digital, seperti YouTube dan media sosial, untuk menyebarluaskan rekaman Tarhim, sehingga dapat menjangkau lebih banyak umat Islam, bahkan di luar Makassar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....