Apa Itu Lavender Marriage? Sedang Ramai Dibahas di Medsos

  • 18 Jan 2025 21:48 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari : Belakangan ini, istilah "Lavender Marriage" kembali ramai dibahas di media sosial. Istilah ini mengacu pada pernikahan yang dilakukan untuk tujuan tertentu di luar cinta romantis, biasanya untuk menyembunyikan orientasi seksual salah satu atau kedua pasangan. Fenomena ini bukan hal baru, namun diskusinya kembali mencuat karena beberapa selebritas dan figur publik yang diduga menjalani pernikahan semacam ini.

Istilah "Lavender Marriage" pertama kali populer di Hollywood pada era 1920-an hingga 1950-an. Pada masa itu, banyak aktor dan aktris memilih menikah untuk menjaga citra mereka di hadapan publik, mengingat orientasi seksual yang berbeda masih dianggap tabu. Pernikahan ini dilakukan demi melindungi karier dan reputasi mereka.

Menurut psikolog klinis Dr. Indah Permatasari, "Lavender marriage biasanya terjadi karena tekanan sosial atau profesional. Individu yang merasa tidak bisa hidup sesuai identitas aslinya mungkin merasa bahwa pernikahan semacam ini adalah solusi untuk memenuhi ekspektasi masyarakat." Selain itu, ia menambahkan bahwa pernikahan ini sering kali didasari oleh kontrak atau kesepakatan antara kedua pihak.

Pernikahan yang tidak dilandasi cinta sejati bisa membawa dampak psikologis yang signifikan bagi kedua belah pihak. Dr. Rendra Wijaya, seorang konselor pernikahan, menjelaskan, "Meskipun lavender marriage terlihat seperti solusi praktis, dalam jangka panjang dapat menyebabkan stres emosional dan rasa hampa. Individu mungkin merasa terjebak dalam hubungan yang tidak autentik." Situasi ini sering kali mengarah pada perasaan isolasi dan kebingungan identitas.

Diskusi tentang lavender marriage di media sosial sering kali memicu pro dan kontra. Beberapa orang melihatnya sebagai pilihan pribadi yang sah, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk manipulasi terhadap institusi pernikahan. Isu ini juga menjadi sorotan dalam kaitannya dengan hak-hak individu LGBTQ+ dan perjuangan mereka untuk hidup secara terbuka.

Di beberapa budaya, tekanan untuk menikah sangat tinggi, terutama bagi individu yang dianggap menyimpang dari norma sosial. Lavender marriage menjadi cara untuk memenuhi harapan keluarga atau masyarakat. Namun, secara hukum, pernikahan seperti ini dapat menimbulkan masalah jika tidak disertai transparansi, terutama dalam hal warisan atau hak asuh anak.

Lavender marriage adalah fenomena sosial yang kompleks, mencerminkan bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi keputusan individu dalam membangun hubungan. Meskipun terlihat sebagai solusi sementara, penting untuk memahami dampak jangka panjangnya, baik secara emosional maupun sosial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....