Ekshibisi PANA-LPDP Perkuat Desa Wisata SBD

  • 28 Feb 2026 16:09 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Kabupaten Sumba Barat Daya sukses menyelenggarakan Ekshibisi Loda Weemaringi di Wee Malala sebagai puncak kolaborasi Program Pengabdian Alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (PANA-LPDP). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan desa tertinggal melalui sektor pariwisata berbasis kerakyatan.

Ekshibisi yang berlangsung Kamis, 12 Februari 2026 tersebut merupakan kulminasi dari pilot project pendampingan intensif di empat desa wisata strategis, yakni Desa Maliti Bondo Ate, Desa Pero Konda, Desa Karuni, dan Desa Watukawula. Program ini dirancang secara komprehensif dengan fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan desa, serta optimalisasi potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

Agenda tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, Ahmad Riza Patria, bersama Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, serta Direktur Utama LPDP, Sudarto. Kehadiran para pejabat pusat ini disambut oleh Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla dan Wakil Bupati Dominikus Alphawan Rangga Kaka, menandai komitmen kuat lintas level pemerintahan.

Dalam arahannya, Ahmad Riza Patria menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dan partisipasi aktif masyarakat desa dalam menerima inovasi. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan pembangunan desa terletak pada keterlibatan warga serta kesinambungan program, sehingga PANA-LPDP tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi fondasi jangka panjang menuju desa mandiri dan berdaya saing global.

Senada dengan itu, Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla menilai kehadiran pemerintah pusat di Bumi Loda Weemaringi sebagai suntikan semangat baru bagi percepatan pembangunan daerah. Pemerintah kabupaten, tegasnya, berkomitmen menjaga fasilitas dan sistem yang telah diserahterimakan agar dapat dimanfaatkan secara optimal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Keberhasilan program ini turut diperkuat oleh dukungan ekosistem kemitraan yang melibatkan perangkat daerah, perbankan melalui Bank NTT, serta sektor korporasi seperti PT Pegadaian. Sinergi multipihak tersebut diharapkan melahirkan model pembangunan desa wisata yang adaptif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh replikasi bagi wilayah lain dalam memutus mata rantai ketertinggalan berbasis pemberdayaan budaya lokal. (Jl)

Rekomendasi Berita