Perjuangan Perempuan Desa Nenas untuk Mendapatkan Energi Baru Terbarukan
- 07 Mar 2026 13:27 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID - Kupang, Fatumnasi, desa di kaki gunung Mutis, pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang sebelumnya selalu diselimuti kabut dingin, mulai menggeliat maju setelah mengenal biogas. Sebelumya Fatumnasi seperti desa-desa tertinggal lainnya, hanya mengandalkan pertanian tradisonal dan memasak menggunakan tungku.
Sejak November 2023, keseharian Frederika Kalepau dan banyak perempuan di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TImor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mulai berubah. Mereka berani menyuarakan kebutuhan akan akses energi, berupa biogas pada saat musyawarah perencanaan tingkat desa.
Bulan ini menjadi pengingat bagi perempuan yang tergabung dalam kelompok UMKM Lintas Mutis. Keberadaan UMKM sangat berarti bagi mereka karena mendapat pelatihan khusus untuk meningkatkan ketrampilan dan menyuarakan tentang ketersediaan sumber energi rumah tangga yang bersih. Pembangunan digester dan kompor biogas menjadi harapan yang telah lama mereka nantikan.
"Kami mulai bersuara, disitu pemerintah desa juga respon kami. Jadi dari musdus, musdes, sampai musyawarah perencanaan kami diundang bersuara di situ," kenang mama Rika, sapaan akrab Frederika saat di wawancarai RRI Kupang, 10 Februari 2026.
Selama ini keputusan-keputusan di desa hanya identik dengan kepala keluarga yang mayoritas adalah laki-laki. Kesempatan bersuara ini menjadi kenangan dan perjuangan bagi kelompok perempuan hingga hari ini.
Rika menjadi salah satu perempuan yang selalu lantang berbicara tentang kesetaraan gender di desanya. Sebelum ada kompor biogas, katanya, perempuan seringkali kesulitan membagi waktu.
"Kami ibu rumah tangga dari pagi di rumah memasak, urus anak, dan setelah itu, kami ke kebun sore baru kembali. Jadi aktivitas kami dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam. Kami yang paling banyak beraktivitas," kata mama Rika saat di wawancarai RRI Kupang.
Tak hanya bekerja di rumah, perempuan Desa Nenas harus membantu suami atau orang tua mereka di kebun dan mencari ranting kering untuk dijadikan kayu bakar.
"Kadang mau masak son (tidak) ada kayu api, ya pasti mama yang pi (pergi) ambil di kebun kalau tidak di hutan. Kalau tidak ada saling baku bantu juga jadi masalah dalam rumah," suara mama Rika terdengar pelan.
Melalui UMKM Lintas Mutis, perempuan di desa Nenas bisa lebih berdaya. Mereka diajar membuat keripik singkong dan memasak minyak urut yang kemudian dijual di Kota So'e. Uang hasil menjual keripik dan minyak urut, sebagian disisihkan untuk kas kelompok dan sisanya dibagi sama rata ke masing-masing anggota.

Akses energi untuk semua
Pada tahun 2025, pemerintah desa menerima usulan mama Frederika dan kelompok perempuan dan berjanji akan mengalokasi dana desa untuk menambah jumlah pembuatan kompor biogas.
“Kalau kita lihat ini berhasil, maka mau tidak mau kami pemerintah desa harus menganggarkan untuk bisa kami kembangkan lagi,” ucap Kepala Desa Nenas, Simon Sasi.
Bagi Simon Sasi, Kepala Desa Nenas, keterlibatan mama-mama dianggap penting karena partisipasi perempuan dapat memberikan masukan terhadap kebutuhan kelompok rentan di desa. Tujuannya agar semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan pembangunan pun lebih inklusi.
Sebagai penyandang disabilitas Tuli - Wicara Yuni E. Mone, juga menjadi anggota dalam kelompok UMKM perempuan Desa Nenas. Ia percaya diri, tak malu atau pesimis dengan keadaannya. "Yuni ini memang komunikasinya sulit, bahkan orang di rumah juga tidak banyak yang bisa berkomunikasi. Tapi dia aktif kalau di kelompok, biar hanya tunjuk-tunjuk untuk suruh dia buat sesuatu" ucap Tony Eluama salah satu pendamping desa CIS Timor.
Yuni juga bisa membuat keripik atau produk olahan lainnya yang diproduksi di UMKM tersebut. Berkat akses energi biogas, semua warga di Desa Nenas memiliki akses ekonomi yang sama.
"Saat ini, baru ada dua biogas, satu di kantor desa dan di UMKM yang dibangun untuk membantu usaha ibu-ibu. Usulan dari kelompok perempuan sudah kami anggarkan dan sudah direncanakan kami akan buat lagi biogas sehingga semua bisa dapat," kata Simon.
Tak hanya mengurusi kegiatan di UMKM, Rika bersama Weni Lapenangga dan Yesi juga memberikan pengetahuan dan penyadartahuan terkait isu perempuan dan transisi energi berkeadilan. "Kami selalu mensosialisasikan tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam segala hal, maka dari situ kami selalu sampaikan. Kayak duduk-duduk, kumpul-kumpul kami mengajak coba kita buktikan itu kerjasama laki-laki dan perempuan," ujar Rika dengan nada semangat.
Program Manager WE for JET (Proyek Transisi Energi Berkeadilan bagi Perempuan dan Kelompok Retan), CIS Timor, Ningsih Bunga mengatakan bahwa konsep transisi energi berkeadilan seharusnya bisa menjangkau semua kelompok rentan. Kebutuhan akan energi baik kelompok disabilitas maupun non-disabilitas, katanya, memiliki perbedaan yang harus diperhatikan oleh pembuat kebijakan.
"Penyusunan kebijakan dan implementasi energi belum sensitif terhadap perempuan dan kelompok rentan. Dalam konteks berkeadilan, setiap orang atau dengan teknologi yang dihasilkan, kita perempuan non-disabilitas akan berbeda kebutuhannya dengan yang disabilitas atau lansia," ucap Ningsih Bunga

Potensi energi terbarukan di Nusa Tenggara Timur
Ketimpangan akses energi dan harga jual bahan bakar seperti minyak tanah dan gas masih sering terjadi di Nusa Tenggara Timur. Padahal itu penting untuk memasak, menyalakan lampu dan kegiatan sehari-hari. Dampaknya pun secara langsung dirasakan bagi rumah tangga, terutama perempuan.
Padahal potensi energi terbarukan di Nusa Tenggara Timur sangat melimpah. Mulai dari potensi tenaga surya yang mencapai 7,27 GW, energi angin di pulau Sumba 10,188 GW, dan Geothermal atau panas bumi mencapai lebih dari 1.233 GW yang tersebar di Flores (Desa Poco Leok), Lembata, dan Alor.
Dosen Politeknik Negeri Kupang, Alexius L. Johanis mengatakan bahwa sebagai provinsi dengan jumlah ternak sapi yang banyak, NTT dapat mengembangkan biogas. Hanya saja, perilaku masyarakat atau peternak seringkali menjadi kendala untuk mengembangkan teknologi tepat guna ini.
"Biogas sebenarnya sangat bisa dikembangkan hanya memang perlu kesadaran peternak, karena butuh disiplin dan banyak pakan. Kalau tanah kosong masih banyak di Kota Kupang dan memang ada aturan seperti jarak kandang dari rumah dan kalau pengembangan lebih besar, kita plotting lokasi berarti," ujar Alex Johanis.

Di Desa Nenas, pembangunan digester untuk biogas menggunakan kotoran sapi yang dipelihara masyarakat. Berbeda dengan keadaan yang dulu, kini tugas untuk mengumpulkan limbah ternak dilakukan oleh laki-laki.
Dosen Teknik Mesin, Politeknik Negeri Kupang, Hero Didak mengatakan penggunaan biogas dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memasak dan penerangan skala rumah tangga.
"Desa Nenas ini, masih menggunakan genset dan solar panel untuk penerangan di malam hari. Kami berharap nantinya, biogas bukan hanya untuk kompor memasak tapi juga bisa penerangan. Dari pada kotoran sapi dibuang, justru dengan sentuhan teknologi seperti ini nilai gunanya akan lebih tinggi," ujar Dosen Hero.
Hero Didak menjelaskan bahwa pengisian awal digester memerlukan sekitar 10 meter kubik kotoran sapi yang dicampur dengan air proses anaerobik. Selain gratis, katanya, penggunaan biogas dapat menekan biaya untuk membeli bahan bakar, karena isi ulang tabung hanya memerlukan limbah sebanyak 50 kg untuk 3 hari pemakaian.
Pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK, Adelaide Ratukore menjelaskan bahwa aktivitas perempuan erat kaitannya dengan kebutuhan akan energi. Energi baru terbarukan (EBT), dikatakan sebagai teknologi yang harus disosialisasikan, dan melibatkan partisipasi, serta mudah diakses oleh kelompok rentan.
"Kultur masyarakat kita ini menempatkan perempuan ada dalam kerja-kerja domestik yang berkaitan dengan ketersediaan energi, mulai dari air, listrik, dan lain-lain. Ketika EBT ini mau dibumikan di NTT harusnya perempuan juga dilibatkan di setiap lini, misalkan ikut diskusi di musrembang supaya kebijakannya tepat sasaran dan tidak mendiskriminasikan perempuan," jelas Leddy Ratukore.
Program inisiatif yang dilakukan perempuan Desa Nenas mendapat tanggapan postif dari pemerintah untuk dikembangkan. Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan, Dinas Energi dan Sumber Daya (ESDM) Provinsi NTT, Adi N.T. Langga mengatakan bahwa pemanfaatan kotoran sapi sangat baik untuk mendukung program net zero emition.
"Nanti dari desa bisa laporkan ke kami apa yang sudah mereka lakukan dan yang penting mereka laporkan ke kami apa yang menjadi kebutuhan mereka lagi. Karena pemanfaatan kotoran sapi jug dapat mendukung program pemerintah dalam menggunakan energi yang ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan energi fosil," kata Adi Langga saat diwawancarai melalui telepon Whatsapp.
Pemprov NTT, kata Adi, memiliki program One Community One Product (OCOP) sehingga masyarakat Desa Nenas dapat menjual produk olahan yang diproduksi menggunakan kompor biogas ke NTT Mart.
"Diharapkan pemanfaatan energi terbarukan melalui jenis biogas yang menghasilkan produk yang bisa dimakan. Pemerintah akan memfasilitasi untuk dipasarkan di NTT Mart," ujar Adi Langga.
Memang impian dari kelompok rentan yang ada di Desa Nenas sudah menemukan titik terang dengan dibangunnya biogas untuk kelompok UMKM. Mama Rika, Mama Weni, Kaka Yuni, dan Yesi bukanlah aktivis, tapi mereka adalah perwakilan dari perjuangan perempuan NTT untuk mendorong energi berkeadilan.
"Harapan kami itu, biar program biogas ini berkelanjutan, berkepanjangan, dan semua orang menggunakannya. Biogas ini sudah saya suarakan, dan ini bukan hanya untuk kelompok, tapi terbuka untuk umum dan siapa yang mau menggunakannya, silahkan datang. Dapur ini tetap terbuka untuk kita semua," ucap mama Rika.