Nikmatnya Berwirausaha, Mendapatkan Keuntungan Yang Empuk
- 29 Des 2025 15:33 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Di tengah kerasnya persaingan usaha kuliner, Jed Donuts & Bakery hadir sebagai salah satu UMKM lokal yang berhasil mencuri perhatian masyarakat Kota Kupang. Berawal dari dapur rumah dan sistem online saat pandemi COVID-19, kini J’Donuts telah berkembang menjadi lima cabang aktif yang tersebar di berbagai titik strategis kota.
Usaha ini dirintis sejak tahun 2020, ketika pandemi memaksa banyak orang mengubah cara bertahan hidup. Kala itu, J’Donuts masih melayani pesanan secara online dan delivery order, tanpa outlet fisik serta dibuat berdasarkan pesanan, menyesuaikan kondisi yang serba terbatas.
“Tahun 2020 itu semuanya masih online karena situasi COVID. Delivery jadi satu-satunya cara kami bertahan,” kata Yuliani Rawal, owner J’Donuts & Bakery saat berbincang di Program Teras UMKM Pro4 RRI Kupang.
Titik balik besar terjadi pada Maret 2022, ketika J’Donuts resmi membuka counter pertamanya di salah satu supermarket Kota Kupang. Keputusan ini bukan tanpa risiko, karena masuk ke area mall berarti harus siap dengan stok harian, kualitas konsisten, serta ekspektasi konsumen yang lebih tinggi.
“Sejak punya outlet, donat harus selalu ready setiap hari. Tidak bisa lagi sistem PO seperti dulu,” ujar Yuliani.
Keberanian itu berbuah manis. Dari satu counter, J’Donuts terus berkembang hingga kini memiliki lima cabang. Semua outlet buka setiap hari dengan sistem suplai terpusat.
J’Donuts bukan hanya soal bisnis, tetapi juga cerita kolaborasi suami-istri. Sang suami memiliki latar belakang profesional di dunia bakery nasional, sementara Yuliani memegang kendali operasional, pemasaran, dan manajemen.
“Produksi masih dikepalai suami saya. Saya lebih ke operasional, target, omzet, dan pengawasan cabang,” ucap Yuliani.
Sejak awal, J’Donuts memilih donat sebagai produk utama, alasannya sederhana namun strategis karena donat dianggap sebagai jajanan “kelas atas” di Kupang, dengan harga yang relatif mahal. Berbekal pengalaman, ilmu, dan pembagian peran yang jelas, keduanya memutuskan keluar dari zona nyaman dan membangun brand sendiri.
“Kami ingin orang bisa makan donat enak, banyak pilihan, tapi harganya tetap terjangkau,” kata Yuliani.
Hingga kini, donat reguler J’Donuts masih dijual dengan harga Rp5.000 per buah, tanpa mengorbankan kualitas dengan teksturnya lembut, dan fluffy. Tak hanya donat manis, J’Donuts juga berinovasi dengan donat asin, seperti donat berbalut tepung roti dengan sosis, saus, dan mayones yang menjadi favorit banyak pelanggan.
Dengan lima cabang aktif, J’Donuts kini memproduksi sekitar 400–500 donat per hari yang disesuaikan dengan karakter masing-masing outlet. Meski dibantu karyawan, Yuliani mengaku masih turun langsung mengawasi kualitas dan operasional.
“Kami tidak kirim sama rata. Ada outlet yang ramai, ada yang kita kurangi. Semua harus dipantau setiap hari,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan bahan baku, yang sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Kendala pengiriman, terutama di akhir tahun, kerap memengaruhi produksi. Selain itu, berjualan di mall juga menuntut mental kuat. Ada masa ramai, ada pula masa sepi.
“Kalau sudah pilih jualan di mall, kita harus siap dengan risikonya. Mau ramai atau sepi, itu konsekuensi,” ujar Yuliani.
Bagi Yuliani, tantangan terberat bukan mengejar penjualan, melainkan mengelola karyawan dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Ia percaya, ketika tim sudah solid dan satu suara, kualitas produk akan mengikuti. Tak heran, dalam setahun terakhir, komplain pelanggan semakin minim.
“PR terberat saya bukan sales, tapi bagaimana mengayomi karyawan,” kata Yuliani.