Panggilan Hati Ibu Sela dalam Mendidik Anak Disabilitas

  • 02 Nov 2025 19:40 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Sosok pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) tak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga hati yang tulus. Salah satunya adalah Maria Marcela Benedita Dos Santos, guru SLB Asuhan Kasih yang telah mengabdi selama 11 tahun mendidik anak-anak disabilitas di Kota Kupang. Baginya, menjadi guru SLB bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati untuk melayani dengan kasih.

“Mengajar di SLB itu seperti sebuah panggilan. Hanya orang yang punya hati nurani saja yang mampu menangani anak-anak disabilitas dengan sepenuh hati,” ujar Sela sapaan akrabnya kepada rri.co.id saat diwawancarai di Kupang, Senin (20/10/2025).

Ia mengaku, suka dan duka selalu mewarnai setiap langkahnya, namun semuanya menjadi pengalaman berharga.

Menurut Sela, setiap anak disabilitas memiliki cara unik dalam mengekspresikan diri. Ada yang menarik baju, tas, atau bahkan rambut gurunya, bukan karena marah, tetapi sebagai bentuk sapaan.

“Kalau mereka menarik baju atau rambut, itu bukan karena tidak sopan, tapi karena mereka ingin menyapa dengan cara mereka sendiri,” jelasnya.

Selama lebih dari satu dekade, Ibu Sela telah belajar memahami berbagai karakter anak-anak disabilitas mulai dari yang tidak bisa melihat, mendengar, hingga berbicara. Ia menekankan, kunci menjadi guru SLB adalah kepekaan dan kemampuan membaca kebutuhan peserta didik tanpa kata-kata. Hanya dengan melihat ekspresi, guru sudah bisa memahami perasaan anak.

Selain itu, kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki. Ketulusan dan dedikasi Ibu Sela menjadi bukti nyata bahwa mengajar anak disabilitas bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah pengabdian dari hati.

Rekomendasi Berita