Mutiara Pagi: Jalan Salib menuju Kehidupan Sejati

  • 12 Mar 2026 19:24 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang: Masa Pra-Paskah, umat Kristen kembali diingatkan pada makna mendalam dari salib dalam perjalanan iman. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan instan, banyak orang cenderung mencari jalan yang mudah untuk meraih kebahagiaan tanpa harus melalui proses, pengorbanan, maupun penderitaan. Padahal, dalam iman Kristen, kehidupan sejati justru ditemukan ketika seseorang bersedia berjalan bersama Kristus melalui jalan salib.

Pesan tersebut disampaikan dalam program Mutiara Pagi yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia Pro 1 Kupang, Selasa (10/3/2026). Dalam renungan bertema Jalan Salib Menuju Kehidupan Sejati, Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi NTT, Apriliatus Laiskodat, mengajak umat merenungkan firman Tuhan dari Injil Matius 16:24.

Apriliatus menjelaskan bahwa dalam firman tersebut Yesus Kristus memanggil setiap orang yang ingin mengikuti-Nya untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Panggilan ini menegaskan bahwa kehidupan iman tidak selalu berjalan dalam kenyamanan, melainkan sering kali melalui proses pengorbanan dan kesetiaan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Menurutnya, dalam kehidupan iman masa kini sering muncul pola pikir yang keliru, yakni memandang Tuhan hanya sebagai pemberi berkat tanpa kesediaan untuk hidup dalam ketaatan. Pola pikir yang berorientasi pada kesenangan ini membuat sebagian orang percaya enggan menghadapi konsekuensi iman yang menuntut pengorbanan dan kesetiaan kepada Tuhan.

Ia menjelaskan bahwa panggilan pertama yang disampaikan Yesus adalah menyangkal diri. Dalam konteks iman Kristen, menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri, tetapi menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi. Melalui masa Pra-Paskah, umat diajak untuk melakukan refleksi diri, tidak hanya melalui puasa makanan, tetapi juga dengan menahan ego, kesombongan, dan keinginan yang berlebihan.

Panggilan kedua adalah memikul salib, yang dimaknai sebagai kesediaan untuk tetap setia kepada Kristus meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Salib yang dimaksud bukan sekadar masalah hidup sehari-hari, melainkan penderitaan yang muncul karena seseorang memilih hidup benar, jujur, dan setia kepada firman Tuhan.

Apriliatus menambahkan bahwa perjalanan Yesus menuju Golgota menjadi gambaran nyata bahwa jalan salib memang tidak mudah. Namun di balik penderitaan tersebut, orang percaya justru dapat merasakan kehadiran Tuhan yang memberi kekuatan dan penghiburan dalam setiap pergumulan hidup.

Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari menyangkal diri dan memikul salib adalah untuk mengikut Yesus secara penuh. Mengikut Kristus berarti hidup dalam relasi yang nyata dengan Tuhan, mempercayakan setiap langkah kehidupan kepada-Nya, serta meyakini bahwa kehidupan sejati hanya ditemukan dalam persekutuan dengan Kristus.

Rekomendasi Berita