Mutiara Pagi: Menghargai dan Menghormati Keberhasilan Sesama

  • 12 Mar 2026 18:57 WIB
  •  Kupang

RRI, CO.ID,Kupang: Menghargai dan menghormati keberhasilan orang lain merupakan sikap penting yang perlu ditumbuhkan dalam kehidupan bersama. Namun dalam kenyataan sehari-hari, tidak jarang seseorang justru sulit menerima perubahan atau keberhasilan yang dialami oleh sesamanya, terutama jika orang tersebut berasal dari lingkungan yang sama atau pernah dikenal dalam kondisi yang sederhana di masa lalu.

Pesan tersebut disampaikan dalam program Mutiara Pagi yang disiarkan oleh Pro 1 Radio Republik Indonesia Kupang, Senin (9/3/2026). Dalam renungan tersebut, Penyuluh Agama Katolik pada Bidang Urusan Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi NTT, Zakarias Paus Tola, mengajak umat untuk memiliki sikap terbuka dalam melihat perubahan yang dialami sesama.

Zakarias menjelaskan, renungan tersebut diambil dari bacaan Injil Injil Lukas 4:24–30 yang mengisahkan tentang penolakan terhadap Yesus Kristus di tempat asal-Nya. Meskipun datang membawa ajaran dan karya yang luar biasa, Yesus tidak diterima oleh masyarakat setempat karena mereka memandang-Nya hanya sebagai anak seorang tukang kayu yang mereka kenal sejak kecil.

Menurutnya, penolakan itu terjadi karena masyarakat sulit menerima kenyataan bahwa seseorang yang mereka kenal dapat berkembang dan melakukan hal-hal besar. Bahkan ketika pewartaan Yesus menyentuh sisi sensitif masyarakat, penolakan pun semakin kuat hingga akhirnya Yesus memilih meninggalkan tempat tersebut tanpa memaksakan kehendak-Nya.

Ia mengatakan, peristiwa tersebut masih sering terjadi dalam kehidupan manusia saat ini. Banyak orang yang justru lebih dihargai ketika berkarya di luar daerah asalnya, sementara di lingkungannya sendiri mereka dipandang dengan kacamata masa lalu.

Zakarias menilai pola pikir seperti itu memang manusiawi karena setiap orang dapat mengalami keterkejutan melihat perubahan yang terjadi pada orang lain. Namun umat diajak untuk tidak terjebak pada cara pandang sempit yang hanya melihat seseorang berdasarkan masa lalunya.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, masyarakat dituntut memiliki pola pikir yang terbuka. Orang yang dulu hidup dalam keterbatasan dapat berkembang menjadi lebih baik, sementara mereka yang sebelumnya tidak diperhitungkan bisa saja menjadi pribadi yang membawa perubahan positif bagi banyak orang.

Melalui masa prapaskah, umat diharapkan semakin belajar untuk menerima kenyataan dan perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dengan sikap terbuka dan hati yang tulus, setiap orang dapat menghargai keberhasilan sesama sekaligus mengambil nilai-nilai positif yang dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan bersama.

Rekomendasi Berita