Mutiara Pagi: Kuat di Tengan Penderitaan

  • 12 Mar 2026 17:16 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang: Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari penderitaan. Setiap orang dapat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kehilangan orang yang dikasihi, sakit penyakit, kegagalan, tekanan pekerjaan, hingga pergumulan rohani. Situasi tersebut sering membuat seseorang merasa lemah, putus asa, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan. Namun dalam iman Kristen, penderitaan tidak selalu menjadi tanda kelemahan, melainkan dapat menjadi sarana bagi kuasa Tuhan untuk dinyatakan.

Pesan tersebut disampaikan oleh Apriliatus Laiskodat, S.Th., Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam program Mutiara Pagi di Radio Republik Indonesia Pro 1 Kupang pada 3 Maret 2026. Dalam renungannya tentang Kuat di Tengah Penderitaan, ia mengangkat firman Tuhan dari 2 Korintus 12:9–10 yang menegaskan bahwa kasih karunia Tuhan cukup bagi manusia dan kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan.

Menurutnya, banyak orang sering sulit menerima penderitaan sebagai bagian dari rencana Tuhan. Penderitaan kerap menimbulkan keraguan, kehilangan semangat hidup, bahkan mempertanyakan kasih Tuhan. Padahal, dalam perspektif iman Kristen, kelemahan manusia justru dapat menjadi sarana bagi kuasa Kristus untuk bekerja dan memulihkan kehidupan orang percaya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam masa Minggu Prapaskah, umat Kristen diajak merenungkan penderitaan Yesus Kristus menjelang kematian-Nya di kayu salib. Yesus mengalami kesakitan fisik, penolakan, pengkhianatan, serta tekanan emosional yang berat, namun tetap taat kepada kehendak Bapa demi keselamatan manusia. Penderitaan tersebut menunjukkan bahwa melalui kesulitan, Tuhan dapat menghadirkan rencana keselamatan yang besar bagi umat manusia.

Apriliatus menjelaskan bahwa Rasul Paulus sendiri pernah mengalami pergumulan berat yang disebut sebagai “duri dalam daging”. Melalui pengalaman itu, Paulus belajar bahwa mengakui kelemahan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bentuk ketergantungan kepada Tuhan. Ketika manusia menyadari keterbatasannya dan bersandar pada Tuhan, maka kasih karunia-Nya akan nyata menopang dan memulihkan kehidupan.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa firman Tuhan kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,” menjadi pengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Justru dalam kondisi paling lemah, kuasa Tuhan dapat bekerja dengan sempurna. Karena itu, umat percaya diajak untuk tetap percaya dan berserah kepada Tuhan, meskipun jawaban atas pergumulan hidup tidak selalu datang dengan segera.

Ia menambahkan bahwa perspektif iman dapat mengubah cara pandang terhadap penderitaan. Seperti yang dikatakan Paulus, orang percaya dapat bermegah dalam kelemahan karena di dalamnya kuasa Kristus bekerja. Dengan iman yang teguh, penderitaan dapat melahirkan ketekunan, pengharapan, dan kesaksian hidup tentang pertolongan Tuhan. Pada masa Prapaskah ini, umat diingatkan bahwa kasih karunia Tuhan selalu cukup, sehingga setiap orang percaya dipanggil untuk tetap kuat, saling menopang dalam iman, dan menjadi saksi kasih Tuhan di tengah masyarakat.

Rekomendasi Berita