Tembiluk, Cacing Laut yang Jadi Kuliner Khas Dayak

  • 15 Sep 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tembiluk adalah makanan tradisional Kalimantan Utara yang memiliki bentuk panjang, berlendir, dan mirip cacing tetapi sebenarnya bukan cacing.
  • Secara ilmiah, tembiluk termasuk kelompok shipworm atau cacing kapal dari keluarga Teredinidae yang masih berkerabat dengan kerang.
  • Tembiluk merupakan jenis moluska seperti kerang dengan ciri tubuh memanjang dan memiliki kemampuan khusus untuk mengebor kayu.

RRI.CO.ID, Jakarta — Bentuknya panjang, berlendir, dan mirip cacing membuat tembiluk terlihat cukup ekstrem bagi sebagian orang. Padahal, hewan yang menjadi makanan tradisional Kalimantan Utara ini sebenarnya bukan cacing, melainkan masih berkerabat dengan kerang.

Secara ilmiah, tembiluk termasuk kelompok shipworm atau cacing kapal dari keluarga Teredinidae. Hewan ini termasuk moluska seperti kerang, tetapi tubuhnya memanjang dan memiliki kemampuan mengebor kayu.

Cacing kapal menggali terowongan di dalam kayu yang terendam air untuk hidup dan memperoleh makanan. Menurut penelitian Applied and Environmental Microbiology, kayu tersebut menjadi tempat berlindung sekaligus sumber makanan bagi hewan ini.

Menariknya, cacing kapal dapat memanfaatkan kayu sebagai makanan dengan bantuan bakteri yang hidup di dalam tubuhnya. Bakteri tersebut membantu memecah selulosa pada kayu sehingga dapat digunakan sebagai sumber nutrisi.

Di Indonesia, tembiluk dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat Kalimantan Utara. Makanan ini menjadi salah satu makanan khas masyarakat Sembakung dan suku Dayak Bulusu.

Tembiluk biasanya ditemukan di dalam kayu yang sudah lama terendam air, termasuk di kawasan bakau dan rawa. Masyarakat Suku Tidung di Sembakung juga memiliki kebiasaan mencari tembiluk bersama-sama saat musim kemarau.

Kayu yang menjadi tempat hidup tembiluk akan diangkat dari sungai atau perairan. Setelah itu, tembiluk dikeluarkan dari dalam kayu menggunakan alat seperti kapak atau mesin pemotong kayu.

Kegiatan mencari tembiluk juga dilakukan bersama oleh masyarakat dari berbagai usia. Karena itu, tembiluk tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga bagian dari kebiasaan masyarakat Sembakung.

Cara menyantap tembiluk juga cukup berbeda dari makanan laut pada umumnya. Tembiluk dapat dimakan langsung setelah diambil dari kayu atau dibawa pulang untuk dimasak.

Tembiluk juga dapat disantap dengan tambahan jeruk nipis, penyedap rasa, dan cabai rawit. Perpaduan tersebut memberikan rasa segar dan pedas pada makanan dengan tekstur dan aroma yang khas.

Selain menjadi makanan tradisional, tembiluk juga memiliki kandungan gizi. Cacing kapal ini mengandung karbohidrat, protein, dan lemak, meski manfaatnya sebagai obat masih membutuhkan bukti penelitian lebih lanjut. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....