Bubur Jongkong Betawi by Solas, Resep Turun-Temurun Sejak 1975
- 26 Apr 2026 19:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Usaha kuliner keluarga ini telah berjalan sejak 1975 dan kini memasuki generasi ketiga dengan resep asli tetap dipertahankan.
- Bubur Jongkong Betawi mengandalkan bahan alami dan proses tradisional, serta dipasarkan dengan sistem pre-order untuk berbagai acara.
RRI.CO.ID, Jakarta- Bubur Jongkong Betawi by Solas menjadi salah satu kuliner tradisional yang tetap bertahan hingga kini. Usaha ini dijalankan secara turun-temurun oleh keluarga Zahra dan Syifa.
Syifa menjelaskan, usaha ini sudah dimulai sejak tahun 1975 oleh buyut mereka. Kemudian dikembangkan kembali pada 2001 hingga kini memasuki generasi ketiga.
“Dari tahun 1975 dan turun ke anak, itu 2001 kita kembangkan lagi. Sampai sekarang sudah generasi ketiga,” kata Syifa dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu 26 April 2026.
Nama ‘Solas’ sendiri merupakan gabungan nama kakek dan nenek mereka. Nama tersebut baru digunakan sebagai branding sejak tahun 2021.
“Solas ini merupakan paduan nama dari Ngkong dan Nyai kita. Ngkong kita namanya Soleh dan Nyai kita namanya Asani, jadi digabung Solas,” ujarnya.
Awalnya, usaha ini belum memiliki nama resmi saat pertama kali berjualan. Baru setelah dikembangkan, identitas ‘by Solas’ mulai diperkenalkan ke publik.
Bubur Jongkong Betawi dikenal dengan cita rasa manis dan gurih yang khas. Teksturnya lembut dan kenyal, berasal dari perpaduan tepung tapioka dan tepung beras.
“Merupakan bubur khas Betawi berbahan dasar tepung tapioka dan juga tepung beras. Dimana kita menggunakan pewarna alami yaitu daun suji dan juga daun pandan,” katanya
Penyajian bubur dilengkapi dengan santan dan gula aren. Kombinasi ini menghasilkan rasa tradisional yang autentik.
Meski tren kuliner terus berkembang, mereka tetap mempertahankan satu varian utama. Resep asli dari leluhur tetap dijaga tanpa banyak modifikasi.
“Kalau untuk resep, kita tetap sama seperti generasi awal, kita menggunakan resep yang sama. Untuk alat masaknya juga kita masih menggunakan kuali besar, diaduk menggunakan centong kayu,” ucapnya.
Nama ‘jongkong’ sendiri berasal dari kebiasaan memasak sambil jongkok di masa lalu. Seiring waktu, istilah tersebut berubah menjadi ‘jongkong’.
Dalam satu kali proses, memasak bubur membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama itu, adonan harus terus diaduk agar menghasilkan tekstur sempurna.
Untuk saat ini, penjualan dilakukan dengan sistem pre-order. Pemesanan biasanya dilakukan dua hari sebelum hari pengambilan.
Zahra dan Syifa berharap bubur jongkong semakin dikenal luas. Mereka ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai kuliner tradisional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....