Jejak Tradisi Kue Keranjang yang Selalu Ada saat Imlek
- 14 Feb 2026 12:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili akan jatuh pada 17 Februari 2026 mendatang. Menjelang perayaan tersebut, kehadiran kue keranjang kembali menjadi bagian tidak dapat terpisahkan dari tradisi masyarakat Tionghoa.
Kue keranjang dikenal sebagai kudapan khas Imlek yang selalu hadir setiap pergantian tahun baru. Sajian manis ini tidak sekadar makanan penutup, tetapi sarat simbol dan harapan.
Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang dipercaya melambangkan rezeki yang terus meningkat serta kehidupan yang semakin baik. Rasa manis dan legitnya menyimpan harapan agar tahun yang dijalani dipenuhi kebahagiaan.
Bentuknya yang bundar dengan tekstur kenyal dan lengket juga memiliki arti tersendiri. Karakter tersebut dimaknai sebagai simbol persatuan dan keharmonisan keluarga agar tetap rukun oleh masyarakat Tionghoa.
Dalam buku ‘Kuliner Betawi Selaksa Rasa dan Cerita’ karya Shinta Teviningrum menjelaskan bahwa dalam dialek Hokkian kue keranjang disebut ‘Tii Kwee’ yang berarti kue manis. Kue Keranjang dibuat dari campuran tepung ketan dan gula yang diolah hingga menyatu.
Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk keranjang. Dari bentuk wadah inilah kue itu dikenal sebagai Kue Keranjang dalam bahasa Indonesia.
Karena teksturnya yang menyerupai dodol membuat kue ini juga dikenal sebagai dodol Cina atau kue bakul di sejumlah daerah. Biasanya kue keranjang disimpan pada suhu ruang atau lemari pendingin hingga mengeras, saat akan menyantapnya dapat dikukus agar kembali kenyal.
Sementara itu, sejarah kue keranjang juga diwarnai beragam kisah. Salah satunya tertulis dalam buku ‘Kepingan Narasi Tionghoa Indonesia The Untold Histories’ karya Hendra Kurniawan.
Dalam buku tersebut disebutkan legenda yang mengaitkan kue ini dengan masa paceklik di Tiongkok. Saat itu, masyarakat membuat makanan berbahan ketan dan gula yang tahan lama sebagai bekal perjalanan.
Dari perbekalan tersebutlah, mulai dikenal Kue Keranjang yang tetap berkualitas baik untuk enam bulan hingga satu tahun lamanya. Legenda ini dipercaya terjadi pada 2.500 tahun lalu, setelah kematian Jenderal dan Politikus Kerajaan Wu bernama Wu Zixu.
Kemudian, kue keranjang mulai digunakan sebagai sesaji dalam sembahyang leluhur tujuh hari menjelang Imlek. Sebagai persembahan, kue ini tidak disantap hingga perayaan Cap Go Meh yang merupakan malam ke-15 setelah.
Selain itu, terdapat pula kisah tentang Dewa Dapur yang setiap tahun melaporkan keadaan rumah tangga warga kepada Kaisar Giok. Sebagai upaya tutup mulut masyarakat menawarkan Kue Keranjang atau Nian Gao agar laporan tersebut membawa kebaikan.
Jika dilihat secara bahasa, nian berarti tahun dan gao berarti kue, sekaligus bermakna tinggi atau meningkat. Karena itu, kue keranjang dimaknai sebagai doa agar kehidupan dan rezeki terus bertambah dari tahun ke tahun.
Dalam tradisi sembahyang Imlek, kue keranjang disusun bertingkat tinggi di altar keluarga. Susunan yang meninggi tersebut menjadi simbol pengharapan akan kemakmuran di tahun yang baru.
Jejak tradisi inilah yang membuat kue keranjang selalu hadir menyambut Imlek. Lebih dari sekadar sajian manis, ia menjadi simbol harapan, keberuntungan, dan kebersamaan dalam memulai lembaran tahun yang baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....