Rupiah Terus Menguat ke Level Rp15.335/Dolar AS
- 17 Sep 2024 16:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakart: Nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (17/9/2024). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,43 persen atau 66,5 poin ke posisi Rp15.335 per dolar AS.
Sinyal penurunan suku bunga bank sentral AS, The Fed, yang makin kuat menjadi pendorong menguatnya rupiah. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga mencapai 100 basis poin hingga akhir 2024.
"The Fed diprediksi menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini," ujarnya. Namun, lanjut Ibrahim, pelaku pasar juga berspekulasi bank sentral AS akan menurunkan interest rate-nya hingga 50 basis poin.
Baca juga: Dolar AS Sedang Tertekan, Rupiah Berpeluang Terus Menguat
Pasar berjangka melihat peluang 61 persen terhadap pemangkasan suku bunga 50 basis poin. Ini merupakan kenaikan tajam dibandingkan minggu lalu yang hanya 15 persen.
Era pemangkasan suku bunga global semakin dekat. Pekan kemarin, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menurunkan suku bunganya hingga 25 basis poin.
Sementara itu, Bank of England diperkirakan masih akan menahan suku bunga pada level 5 persen. Sebelumnya, bank sentral Inggris itu menurunkan suku bunga 25 basis poin pada Agustus 2024.
Dari dalam negeri, sentimen pasar terpantau positif setelah terbitnya laporan neraca perdagangan Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Neraca perdagangan kembali surplus pada Agustus 2024 sebesar USD2,9 miliar, lebih tinggi dari perkiraan pasar.
"Sebelumnya, para ekonom meramalkan surplus neraca perdagangan Indonesia hanya sekitar USD1,9 miliar," ucap Ibrahim. Menurut dia, perkiraan itu sejalan dengan meningkatnya ekspor dan melambatnya impor.
Ibrahim menyatakan surplus neraca perdagangan pada Agustus 2024 merupakan capaian positif. Apalagi industri manufaktur Jepang dan AS tengah mengalami kontraksi.
"Pada saat bersamaan, beberapa komoditas juga mengalami penurunan terutama dari sektor pertanian, energi, mineral, dan logam," ujarnya. Padahal, lanjut Ibrahim, harga logam mulia khususnya emas naik secara signifikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....