Rupiah Ditutup Turun Tipis 0,02 Persen
- 12 Jun 2024 22:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali melemah dalam penutupan perdagangan sore ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah turun tipis 0,02 persen (4 poin) ke posisi Rp16.295 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar AS menguat dan mendekati level tertinggi dalam beberapa sesi perdagangan. Karena pasar mengantisipasi pertemuan bank sentral Amerika Serikat ( The Fed ) pekan ini.
"The Fed diperkirakan tidak akan mengubah suku bunganya. Namun setiap sinyal mengenai keputusan suku bunga di masa depan akan diawasi dengan ketat oleh pasar," kata Ibrahim, Rabu (12/6/2024).
Baca Juga : Rupiah Berisiko Melemah Akibat Ekspektasi Suku Bunga
Pelaku pasar mewaspadai kemungkinan sikap hawkish ketat) The Fed, di tengah tingginya inflasi dan kuatnya pasar tenaga kerja. Sebelum pertemuan Fed, rilis data indeks harga konsumen diperkirakan menunjukkan inflasi tetap stabil di bulan Mei.
Tren seperti ini memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Meski masih ada spekulasi di kalangan pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September mendatang.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengkhawatirkan pemulihan ekonomi Tiongkok melihat data inflasinya yang beragam. Indeks harga produsen Tiongkok di bulan Mei melambat, begitu pula indeks harga konsumen juga lebih rendah dari perkiraan.
"Kondisi tersebut menunjukkan belanja konsumen sebagai pendorong utama perekonomian Tiongkok masih lemah. Bahkan ketika aktivitas pabrik meningkat," ucap Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, ada sentimen positif yang dapat memperkuat optimisme pasar keuangan domestik. Bank Dunia kembali menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini karena ekspansi ekonomi Amerika Serikat yang kuat.
"Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,6 persen dari perkiraan 2,4 persen pada perkiraan Januari lalu. Proyeksi naiknya pertumbuhan ekonomi global akan berdampak positif terhadap perekonomian asia tenggara, terutama Indonesia," ucap Ibrahim.
Tetapi Bank Dunia juga mengingatkan sejumlah faktor yang masih menjadi ancaman pemulihan ekonomi global. Yang utama adalah dampak perubahan iklim, perang, dan utang yang tinggi yang akan merugikan negara-negara miskin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....