Perdagangan Saham Diprakirakan Masih Lesu, IHSG Kemungkinan Lanjutkan Pelemahan

  • 16 Sep 2026 08:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini diprakirakan masih lesu
  • IHSG akan menguji level 6.350-6.400
  • Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Dalam rilisnya, lembaga itu memperingatkan soal peningkatan risiko kredit dan pendapatan pada bank BUMN di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini diprakirakan masih lesu. Pasar masih sepi katalis positif yang dapat mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"IHSG akan menguji level 6.350-6.400," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 16 September 2026. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, IHSG melemah 1,13 persen di level 6.461.

Perdagangan saham hingga Selasa kemarin, masih diwarnai aksi jual saham dengan net sell sebesar Rp354,16 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual investor asing adalah BMRI, BBRI, BBNI, CPIN dan ASII.

Tim Phintraco Sekuritas melihat situasi pasar yang cenderung membuat investor 'wait and see'. Penyebabnya, harga minyak mentah yang terus meninggi dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

"Kedua hal tersebut menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG," kata Tim Phintraco. Sementara itu, rupiah juga ditutup melemah pada Selasa kemarin.

Rupiah turun 0,14 persen di pasar spot pada level Rp17.694 per dolar AS. Mayoritas mata uang Asia di juga melemah di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

Tim Analis Phintraco Sekuritas juga mencermati rilis lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Dalam rilisnya, lembaga itu memperingatkan soal peningkatan risiko kredit dan pendapatan pada bank BUMN di Indonesia.

"Meningkatnya risiko kredit disebabkan penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah bertumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri. Hal itu berpotensi menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) serta menekan profitabilitas sektor perbankan negara," ujar Tim Phintraco.

Di sisi lain, investor menantikan hasil pertemuan bank sentral AS, the Fed yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga. Kenaikannya diprakirakan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75-4,0 persen .

Selain itu dari AS juga akan dirilis data penjualan eceran bulan Agustus 2026. Penjualan eceran di AS diprakirakan meningkat 0,9 persen setelah turun 0,6 persen secara bulanan.

Untuk harga minyak pada Selasa kemarin, harga minyak WTI ditutup menguat 4,4 persen pada level USD105 per barel. Harga minyak Brent di atas level USD108 per barel.

"Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak karena penutupan jalur pipa ekspor utamanya. Sehingga harga minyak semakin melambung," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....