Rupiah Makin Tertekan, Ditutup di Posisi Rp17.916 per Dolar AS
- 24 Sep 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun cukup dalam 0,55 persen atau 98 poin menjadi Rp.17.916 per dolar AS
- Prospek negosiasi kembali antara AS-Iran mempengaruhi sentimen pasar
- Di dalam negeri, para ekonom mengingatkan masih tingginya risiko eksternal berupa suku bunga tinggi yang memicu naiknya imbal hasil global. Termasuk tekanan geopolitik dan harga minyak yang fluktuatif
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun cukup dalam 0,55 persen atau 98 poin menjadi Rp.17.916 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menyebut prospek negosiasi kembali antara AS-Iran mempengaruhi sentimen pasar. Iran dan Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka,” ujarnya, Kamis, 24 September 2026.
Ibrahim mengutip pernyataan seorang pejabat senior Iran yang mengatakan bahwa Iran tetap terbuka untuk diplomasi. Tetapi Iran juga menegaskan tidak akan pernah tunduk pada tekanan AS.
“Pejabat Iran itu sedang meninjau usulan perdamaian Washington untuk membuka kembali Selat Hormuz. Termasuk pencabutan blokade terhadap angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran,” ujar Ibrahim.
Diplomasi yang alot antara AS dan Iran, mengindikasikan konflik kemungkinan masih akan berlangsung lama. Sementara itu, dari sisi ekonomi, pasar melihat sikap ‘hawkish’ pejabat the Fed, Michael Barr.
“Barr mengatakan, penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi,” ucap Ibrahim. Sehingga ada kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan lagi suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan Oktober.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga itu mencapai 69,7 persen. Persentasenya naik dibandingkan minggu lalu, sebesar 48,7 persen.
Di dalam negeri, para ekonom mengingatkan masih tingginya risiko eksternal berupa suku bunga tinggi yang memicu naiknya imbal hasil global. Termasuk tekanan geopolitik dan harga minyak yang fluktuatif,
Pemerintah juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan. Utamanya karena nilai tukar rupiah masih rawan terhadap penguatan dolar AS dan arus keluar modal asing.
Fenomena alam El Nino, juga menjadi ancaman bagi perekonomian, karena risiko gangguan produksi dan pasokan pangan. Kondisi itu berpotensi memicu inflasi dari komponen harga pangan bergejolak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....