IHSG Hari Ini, Berpeluang Menguat Ditopang Turunnya Harga Minyak
- 22 Sep 2026 08:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan akan menguat terbatas pada perdagangan hari ini
- Turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan IHSG
- BEI menyesuaikan ketentuan batasan harga terendah minimum dan Auto Rejection
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan akan menguat terbatas pada perdagangan hari ini. Pada Senin kemarin IHSG ditutup melemah 0,88 persen pada level 6.384,73 di tengah minimnya katalis positif.
Pelemahan IHSG masih disertai aliran keluar modal asing karena aksi jual investor asing sebesar Rp503,12 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, ANTM, BBCA, TLKM dan MDKA.
"Hari ini IHSG akan menguji level 6.300-6350. Turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan IHSG," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa, 22 September 2026.
| Baca juga: BI Respons Rupiah yang Terus Melemah |
Harga minyak WTI turun 4,5 per pada level USD95 per barel. Sedangkan harga minyak Brent melemah lebih dari 3 persen di level USD100 per barel.
Tim Phintraco juga mencermati perkembangan kebijakan di Bursa Efek Indonesia (BEI). "BEI menyesuaikan ketentuan batasan harga terendah minimum dan Auto Rejection," ucapnya.
Pembatasan itu diberlakukan untuk efek bersifat ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA). Baik yang diperdagangkan di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.
"Penyesuaian ini adalah batasan harga terendah dari semula Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026," ujar Tim Phintraco. Penyesuaian tersebut sekaligus diikuti perubahan ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).
Tim Phintraco menilai positif pemberlakuan harga minimum saham menjadi Rp1 dan penyesuaian aturan batas ARB nominal. Kebijakan ini akan berdampak positif dalam meningkatkan likuiditas pasar dan mengoptimalkan mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery).
"Selain itu, akan membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak di saham yang ARB pada level Rp50 dalam waktu lama," kata Tim Phintraco. Tapi kebijakan tersebut juga ada sisi negatifnya.
Dampak negatifnya adalah risiko kerugian modal (capital loss) yang besar. Selain itu, volatilitas karena spekulasi akan tinggi utamanya pada saham di bawah harga Rp50/saham.
"Para investor pemula juga berpotensi masuk dalam jebakan ilusi harga murah," ucap Tim Phintraco. Kondisi inilah yang perlu diwaspadai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....